Usai Ditemui Putin, Xi Jinping akan Melawat ke Korut: Barisan Anti Amrik Rapatkan Barisan

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Beijing benar-benar menjadi pusat perhatian dunia pekan ini. Setelah menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan yang amat strategis pada Rabu, 20 Mei 2026, Presiden China Xi Jinping dikabarkan tidak akan beristirahat lama.

Informasi terbaru dari kantor berita Yonhap menyebutkan bahwa Xi tengah bersiap demi menjalankan kunjungan penting ke Korea Utara teramat cepat pada pekan depan menurut catatan Sputnik Globe, (21/5/2026).

Kabar rencana lawatan ke Pyongyang ini muncul tepat setelah Putin dan Xi mempererat ikatan yang mereka sebut sebagai hubungan “tidak terjoyahkan” di Great Hall of the People.

Manuver Rusia-China

Dalam pertemuan tersebut, Rusia dan China memamerkan kekuatan ekonomi mereka bersama nilai perdagangan bilateral tahun 2025 yang menembus angka Rp4.224 triliun.

Menariknya, transaksi raksasa ini hampir 100 persen telah meninggalkan Dolar AS dan beralih memakai mata uang lokal, yakni Rubel dan Yuan, demi memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara dari tekanan eksternal.

Namun, agenda Xi Jinping bukan sekadar soal angka perdagangan. Di balik kemesraan Beijing dan Moskow, terdapat ambisi besar demi menggarap Polar Silk Road atau Jalur Sutra Kutub melalui Jalur Laut Utara (NSR).

Rute ini amat menggiurkan lantaran mampu memangkas waktu tempuh pengiriman barang dari China ke Eropa menjadi cuma sekitar 20 hari saja.

Durasi ini hampir dua kali makin cepat dibandingkan jalur tradisional melewati Terusan Suez yang biasanya memakan waktu 35 hingga 45 hari.

Langkah China mencari rute alternatif ini bukan tanpa alasan. Beijing sedang berupaya keras mengatasi Dilema Malaka, di mana sekitar 80 persen impor minyak mereka wajib melewati Selat Malaka yang sempit dan rawan blokade.

Apalagi, situasi keamanan maritim global sedang dihantui krisis besar sejak penutupan total Selat Hormuz pada Maret 2026 yang sempat memangkas pasokan minyak dunia hingga 10,1 juta barel per hari.

Selat Malaka rentan kehilangan “nasabah”

Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius untuk Indonesia. Pada April 2026, pihak pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan sempat melempar gagasan revolusioner demi mengenakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka.

Namun, bersama adanya alternatif Jalur Sutra Kutub yang makin efisien untuk China dan Rusia, posisi strategis Selat Malaka kini menyikapi tantangan persaingan rute logistik global.

Di tengah pergeseran arus dagang dan energi ini, kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara pekan depan dipandang sebagai langkah diplomasi demi menjaga stabilitas kawasan.

Xi dikabarkan akan berupaya mengambil peran sebagai mediator dalam hubungan antara Korea Utara bersama Amerika Serikat, sekaligus menolong meredakan ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Dengan mengamankan stabilitas di Korea Utara, China berupaya mengonfirmasi bahwa fokus pembangunan ekonomi dan jalur logistik baru mereka di utara tidak terganggu oleh konflik regional di halaman rumahnya sendiri.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *