Viral Presiden Pecat Gubernur karena Pakai Celana Ketat saat Bersepeda di Turki

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Presiden Recep Tayyip Erdogan mendadak mencopot Mehmet Fatih Cicekli dari jabatannya sebagai Gubernur Provinsi Ardahan. Keputusan drastis ini meluncur deras setelah foto sang kepala daerah mengenakan pakaian ketat saat mengayuh sepeda mendadak viral di media sosial.

Langkah tegas tersebut memicu gelombang simpati yang amat besar dari masyarakat sekitar lokal di wilayah perbatasan Turki. Ribuan masyarakat sekitar kini bersatu padu menggalang aksi nyata demi menuntut pengembalian jabatan pimpinan daerah favorit mereka.

Pencopotan resmi Cicekli tertuang dalam keputusan kepala negara yang ditandatangani langsung oleh Erdogan pada 17 Juli lalu. Meski dokumen negara tak mencantumkan alasan spesifik, desakan pemecatan menyeruak kuat dari celotehan sejumlah politisi yang mempersoalkan gaya berbusana sang aparatur negara saat mengampanyekan olahraga.

Anggota Partai Rakyat Republik (CHP) yang merupakan oposisi utama, Inan Akgun Alp, melempar kritik tajam terkait prioritas kerja Cicekli. Ia menganggap penggunaan celana olahraga ketat saat bertugas lapangan amat tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala daerah.

“Dia berkeliling memakai celana ketat, menghabiskan seharian bersepeda bersama pengawal di depannya, bersepeda memakai celana ketat sampai sore,” ujar Alp sebagaimana dikutip dari situs berita T-24 dalam debat parlemen pekan lalu.

“Seorang kepala daerah tidak dapat berkeliaran di pusat kota bagaikan ini.”

Kritik pedas juga datang dari Samil Tayyar, mantan legislator partai penguasa pimpinan Erdogan. Menurutnya, etika berpakaian aparatur negara publik wajib senantiasa menyesuaikan nilai budaya lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar setempat.

“Masyarakat bebas memakai apa saja dalam kehidupan pribadi mereka, namun seorang kepala daerah tidak boleh mengunjungi masyarakat sekitar bersama celana ketat saat bertugas; hal itu tidak sejalan bersama keseriusan negara. Di lingkungan sosial yang tradisional bagaikan Ardahan, hal itu sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Tayyar melalui akun X miliknya.

Cicekli yang baru saja menduduki kursi kepala daerah sejak Januari lalu langsung menyerahkan tanggapan tegas. Sosok yang gemar mempromosikan gaya hidup sehat ini menegaskan bahwa pakaian tersebut merupakan kostum resmi dalam dunia olahraga.

“(Kami akan) terus mengayuh. Saya merupakan seorang atlet yang berlatih berlayar, mendayung, dan bersepeda. Pakaian yang saya kenakan merupakan pakaian olahraga,” kata Cicekli mengklarifikasi.

Aksi pencopotan yang dinilai bermakinan ini menyulut kemarahan publik hingga memicu aksi penggalangan dukungan massa. Lebih dari 10.000 orang telah membubuhkan tanda tangan dalam petisi daring demi mendesak pihak pemerintah pusat memulihkan posisi Cicekli.

Warga menganggap Cicekli telah mengukir prestasi nyata selama memimpin Ardahan. Ia dinilai amat gigih menggerakkan kegiatan pemuda, memajukan dunia olahraga, serta mendongkrak potensi pariwisata berbasis sepeda.

Momen perpisahan Cicekli di Ardahan diwarnai suasana haru yang mendalam pada Rabu lalu. Ratusan pesepeda lokal bahkan berkonvoi mengawal kendaraan sang mantan kepala daerah hingga ke luar wilayah perbatasan Armenia dan Georgia tersebut.

“Saya percaya bahwa saya tidak mengecewakan mereka yang menjamin dan berdiri di samping saya sepanjang perjalanan saya hingga pada saat ini,” ujar Cicekli bersama penuh emosional di hadapan para pendukungnya. “Saya percaya bahwa ini merupakan kehormatan terbesar dari seluruhnya.”

Dukungan internasional turut mengalir dari Anggota Parlemen Eropa asal Spanyol, Nacho Sanchez Amor. Pelapor khusus demi Turki tersebut menilai bahwa manuver kritik dari oposisi sebenarnya menyuarakan agenda konservatif islami dari kelompok penguasa.

Kasus pemecatan ini menambah daftar panjang ketegangan antara simbol moderat-modern bersama nilai-nilai tradisional konservatif di Turki. Provinsi Ardahan yang berada di wilayah timur dikenal memiliki norma sosial yang amat memegang teguh adat istiadat.

Penetapan Cicekli pada Januari lalu sebenarnya diharapkan mengangkut angin segar untuk modernisasi kawasan perbatasan tersebut. Namun, benturan antara kebiasaan personal aparatur negara bersama ekspektasi budaya lokal justru mengakhiri masa jabatannya secara mendadak.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *