5 Peserta Tewas, Mengapa Latsarmil Tetap Lanjut? Istana: Manajer Koperasi Harus Segera Kerja

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pemerintah mengonfirmasi akan mengevaluasi pelaksanaan latihan dasar militer (latsarmil) untuk peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) setelah lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia selama mengikuti pelatihan.

Meski demikian, program tersebut ditentukan tetap berjalan.

Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro menyebutkan, evaluasi dilakukan demi mencegah kejadian serupa terulang. Namun, kebutuhan mendesak akan tenaga manajer KDMP dan KNMP menciptakan pelatihan tidak dihentikan.

“Secara umum tentu lantaran proses ini telah berlangsung dan memang tenaga manajer demi Koperasi Merah Putih juga wajib dalam waktu dekat bekerja berakibat pelatihan tetap jalan terus. Tetapi masukkan dari berbagai pihak tentu diperhatikan,” kata Juri di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Menurut Juri, pelatihan tersebut tidak cuma bertujuan membekali peserta bersama kemampuan mengelola koperasi, namun juga memperkuat aspek mental dan ideologi kebangsaan.

“Latihan-latihan yang sifatnya pembekalan pada mental-ideologi itu yang juga diberikan kepada mereka. Jadi seluruhnya tetap berjalan, namun diperbaiki, dievaluasi supaya makin baik,” ungkap Juri.

Meski masih belum merinci bentuk evaluasi yang akan dilakukan, Juri mengonfirmasi pihak pemerintah akan menjalankan berbagai langkah mitigasi agar tidak lagi muncul pihak korban jiwa dalam pelaksanaan pelatihan berikutnya.

“Insyaallah ke depan telah diantisipasi supaya tidak terjadi pihak korban,” katanya.

Lima Peserta Meninggal bersama Penyebab Berbeda

Evaluasi terhadap latsarmil mencuat setelah lima peserta SPPI dilaporkan meninggal dunia selama mengikuti pendidikan di sejumlah satuan pendidikan yang berbeda.

Peserta pertama yang meninggal merupakan Anisa Muyassaroh, yang menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Anisa merasakan gangguan kesehatan pada 18 Juni dan sempat mendapat penanganan medis semasih belum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan catatan medis, Anisa meninggal akibat heat stroke.

Korban kedua, Yonanda Muhammad Taufiq, merupakan peserta pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja. Kondisi kesehatannya menurun pada 17 Juni hingga akhirnya meninggal dunia akibat henti jantung atau cardiac arrest.

Sementara itu, Novia Rahmadhani Sitohang yang diketahui memiliki riwayat tuberkulosis merasakan gangguan kesehatan pada 22 Juni. Setelah sempat dirawat di RSAU dr Esnawan Antariksa, Novia dinyatakan meninggal dunia sehari lalu.

Korban berikutnya, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, merasakan sesak napas pada 25 Juni. Meski sempat membaik dan kembali beraktivitas, kondisi kesehatannya kembali menurun pada sore hari hingga wajib dirawat intensif di ruang ICU RSAU dr Esnawan Antariksa. Rifki meninggal dunia pada 26 Juni 2026.

Adapun peserta terakhir yang meninggal merupakan Nola Diasari dari Satuan Pendidikan Belanegara Kalimantan. Nola merasakan sesak napas dan demam pada 27 Juni semasih belum dirujuk ke rumah sakit. Dalam proses penanganan medis, Nola merasakan henti jantung dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.30 WIB.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *