MediaMerdeka.com – Presiden Donald Trump menegaskan niatnya mencaplok Selat Hormuz menjadi wilayah kedaulatan Amerika Serikat begitu pertempuran melawan Iran usai. Langkah nekat ini menjadi sinyal eskalasi baru dari Washington demi mengamankan kontrol mutlak atas titik nadi perdagangan minyak dunia.
Pernyataan berani ini menandai pergeseran strategi AS yang tidak lagi sekadar menekan rezim Tehran, melainkan secara terbuka berniat menguasai jalur maritim internasional. Penguasaan fisik atas selat tersebut berpotensi mengubah peta geopolitik maritim secara permanen.
“Setelah kami berakhir mengalahkan Iran, yang pada saat ini sedang dikalahkan bersama amat parah, saya akan dalam waktu dekat menegaskan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” kata Trump dalam pidatonya di sebuah akademi kepihak kepolisianan di negara untukan New York, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (15/8/2026).
Sejauh ini, armada angkatan laut Amerika Serikat mengeklaim masih memegang kendali penuh melalui blokade ketat di sekitar pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Trump menggambarkan keunggulan militernya di kawasan tersebut sebagai benteng pertahanan yang tak dapat ditembus musuh.
Dia pun menggambarkan blokade tersebut sebagai sesuatu yang “tidak terbendung” dan “tembok baja.
Masyarakat Amerika Serikat kini wajib menanggung lonjakan harga bahan bakar minyak akibat blokade dan konflik bersenjata yang berkepanjangan ini. Trump mengimbau publik memaklumi tekanan ekonomi domestik tersebut demi menutup akses senjata nuklir Tehran.
“Kalian cuma perlu mengingat bahwa apa yang kami lakukan ini merupakan jasa besar untuk dunia,” ujarnya.
Mengapa Selat Hormuz Menjadi Rebutan Utama Kedua Negara?
Konflik bersenjata yang melibatkan aliansi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berlangsung sejak akhir Februari lalu tanpa ketentuan kapan akan usai. Penutupan koridor perairan sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini langsung memicu krisis pasokan energi di tingkat global.
Pemerintah Iran bertindak tegas bersama menepis bernegosiasi atau membuka akses pelayaran semasih belum AS menghentikan total blokade pelabuhan mereka. Tehran menekankan bahwa kedaulatan atas Selat Hormuz berada penuh di tangan mereka dan tidak dapat diganggu gugat oleh pihak asing.
Iran juga menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali dan pengelolaannya, sementara Trump menyikapi tekanan semakin besar di internal negaranya demi mengakhiri perang yang tidak disukai itu.
Sikap keras kedua belah pihak memperpanjang ketidaktentuan ekonomi global serta menaikkan harga berbagai komoditas pokok di sejumlah negara. Trump sendiri kini berada di bawah bayang-bayang protes publik domestik yang mengawali jenuh bersama biaya perang yang melambung tinggi.
Pertikaian terbuka antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam sejak rentetan bentrokan militer meletus pada akhir Februari. Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perang ini lantaran dilewati oleh hampir bagaikanga pasokan minyak mentah jalur laut dunia, berakibat blokade laut di area ini langsung berdampak fatal pada kestabilan harga energi global.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

