Kapolri Hadiri Konsolidasi Buruh Metal, Analis Bedah Pendekatan Community Policing

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghadiri konsolidasi akbar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), di Kawasan Industri MM2100, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/9/2026).

Kehadiran pimpinan Korps Bhayangkara tersebut dinilai oleh analis politik dan hukum Boni Hargens sebagai sinyal kuat komitmen institusi kepihak kepolisianan dalam menerapkan paradigma community policing dan Presisi sebagai katalisator keamanan di tengah dinamika hubungan industrial serta potensi aksi massa.

Dalam agenda tersebut, Kapolri menggarisbawahi urgensi konsolidasi terpadu yang melibatkan empat pilar utama, yakni pihak pemerintah, kelompok buruh, pengusaha, dan pengelola kawasan industri.

Kolaborasi empat pihak tersebut ditegaskan sebagai fondasi penting demi membuka jalur komunikasi dua arah sekaligus merumuskan solusi konkret terhadap sengketa ketenagakerjaan di tanah air.

Boni Hargens memaparkan bahwa kehadiran langsung Jenderal Listyo Sigit bukan sekadar urusan protokoler, melainkan determinasi nyata Polri dalam mendekatkan diri kepada elemen masyarakat sekitar sipil.

Pendekatan ini dinilai menempatkan publik sebagai mitra strategis pemeliharaan kamtibmas, bukan sekadar objek penindakan.

“Konsolidasi pengusaha, buruh, pihak pemerintah, dan pemilik kawasan industri memang modal utama dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif dalam dunia industri,” kata Boni.

Boni turut menyoroti keterkaitan kehadiran Kapolri bersama realisasi konsep Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan).

Menurutnya, forum serikat pekerja membuktikan prinsip Presisi dijalankan secara konkret di ranah operasional kepemimpinan melalui interaksi langsung bersama perwakilan buruh.

Sinergitas antara institusi keamanan dan masyarakat sekitar sipil dinilai memegang peranan penting dalam meredam eskalasi konflik industrial yang berpotensi memicu gangguan ketertiban umum.

Melalui peran sebagai fasilitator dialog, kepihak kepolisianan menempatkan diri dalam ekosistem hubungan industrial yang sehat.

“Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan untukan dari pola yang makin besar dalam membangun relasi kelembagaan yang sehat antara Polri dan berbagai elemen masyarakat sekitar,” lanjut mantan Dewan Pengawas LKBN ANTARA tersebut.

Di samping urusan ketenagakerjaan, Boni menyaksikan keterlibatan aktif kepihak kepolisianan di ruang sipil sebagai penopang stabilitas sosial dan politik untuk agenda kerja pihak pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya dalam mengantisipasi potensi gelombang unjuk rasa.

“Karena bagaimanapun, stabilitas sosial dan politik merupakan salah satu prasyarat utama untuk kesuksesan agenda pembangunan pihak pemerintahan Prabowo-Gibran,” tegas Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) tersebut.

Relevansi langkah Kapolri tersebut juga bertaut bersama rencana aksi massa “Black September” yang diperkirakan bergulir pada 24 September 2026.

Isu mengenai rencana aksi berskala luas itu semasih belumnya telah disampaikan oleh Wakapolri kepada awak media pada 9 September 2026.

Merespons potensi mobilisasi massa tersebut, langkah proaktif Kapolri yang membuka komunikasi sejak awal dipandang sebagai strategi pencegahan konflik.

“Alih-alih menunggu eskalasi dan lalu merespons secara reaktif, Polri memilih demi hadir makin awal dalam rangka membangun saluran komunikasi, memperlihatkan niat baik kelembagaan, dan secara aktif berkontribusi pada pembahasan solusi atas keluhan-keluhan yang menjadi bahan bakar potensi aksi massa tersebut,” tutur mantan anggota Golden Key International Honour Society dan Phi Alpha Honor Society tersebut.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *