Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Harga cabai masih bergerak naik di sejumlah pasar lantaran pasokan dari petani masih belum kembali normal. Kemarau berkepanjangan dan masa transisi panen menciptakan produksi cabai menurun, sementara tanaman baru masih belum sejumlah menghasilkan.

Petani pegiat Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Teguh Suprapto menyebutkan petani pada saat ini tengah berada dalam masa peralihan dari tanaman lama ke tanaman baru.

“Petani cabai di Banjarnegara kini memasuki masa transisi, dari tanaman yang telah habis panen menuju tanaman yang menyikapi panen lagi. Tanaman yang baru ditanam masih belum sejumlah yang menghasilkan,” kata Teguh, Sabtu (19/9).

Kemarau panjang turut mempersempit pasokan. Sejumlah sentra cabai merasakan keterbatasan air berakibat tanaman yang sewajibnya masih berproduksi tidak mampu menghasilkan panen secara optimal.

Di tingkat petani, harga cabai rawit merah kini sekitar Rp55.000 per kilogram, cabai merah keriting sekitar Rp42.000 per kilogram, sementara itu cabai rawit hijau berada di kisaran Rp32.000 per kilogram.

Tekanan harga bahkan terlihat makin tinggi di tingkat konsumen. Di Pasar Manis Purwokerto, harga cabai merah besar bertahan di sekitar Rp60.000 per kilogram, naik dari Rp55.000 per kilogram.

Harga cabai rawit merah juga mencapai Rp75.000 per kilogram, meningkat dari Rp72.500 per kilogram dalam dua pekan semasih belumnya. Sementara cabai merah keriting naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per kilogram sejak 17 September.

Cabai rawit hijau juga ikut terkerek. Harganya mencapai Rp65.000 per kilogram, naik dari sekitar Rp55.000 per kilogram sejak awal September.

Pasokan Diperkirakan Mulai Pulih Oktober

Teguh memperkirakan pasokan cabai dari Banjarnegara mengawali meningkat pada Oktober hingga November ketika tanaman baru memasuki masa panen.

Namun, sejumlah tanaman di wilayah Banjarnegara untukan atas diperkirakan baru mengawali dipanen pada akhir Oktober lantaran masa panennya makin lambat.

“Umur panennya di sini memang makin lambat. Mungkin akhir Oktober mengawali panen, lalu Oktober-November akan semakin sejumlah,” ujarnya dilansir dari laman Antara, Sabtu (19/9/2026).

Kondisi serupa berpotensi terjadi di daerah sentra cabai lain yang juga terdampak kemarau. Kekurangan air menciptakan seuntukan tanaman makin cepat rusak dan mengering berakibat produktivitas menurun.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, semasih belumnya juga menyebut kenaikan harga berkaitan bersama regenerasi tanaman di tingkat petani.

“Petani sedang regenerasi tanaman. Yang lama menghabiskan sisa tanam, lalu yang baru ini masih menunggu panen,” kata Gatot.

Dengan pasokan yang masih terbatas, harga cabai masih berpotensi merasakan kenaikan semasih belum produksi tanaman baru mengawali masuk makin sejumlah ke pasar.

Panen pada Oktober-November diharapkan menjadi titik balik pasokan. Jika produksi kembali meningkat, tekanan terhadap harga cabai di tingkat konsumen diharapkan ikut mereda.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *