Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menguak misteri terbakarnya sejumlah barang lain di rumah masyarakat sekitar Seyegan, Sleman secara tiba-tiba.

Peristiwa itu diduga berkaitan bersama akumulasi gas metana pada material berpori.

Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, menyebutkan bukti teramat kuat yang ditemukan sejauh ini mengarah pada keberadaan gas metana di titik-titik kemunculan api.

Berdasarkan pengukuran yang semasih belumnya dilakukan pihak kepihak kepolisianan, kadar gas metana diketahui meningkat di lokasi yang merasakan kebakaran.

“Dari alat ukur kepihak kepolisianan itu ternyata di tempat keluarnya api itu memang gas metananya naik,” kata Sarju kepada awak media, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Sarju, gas metana yang keluar dari bawah permukaan tanah tidak senantiasa langsung terbakar.

Dalam kondisi tertentu, gas tersebut dapat termakin dahulu terakumulasi pada material yang memiliki sejumlah pori, bagaikan pakaian, sofa, tikar, maupun benda berbahan kain lainnya.

“Yang punya pori. Benda-benda yang punya pori bagaikan pakaian, sofa, itu dia akan menyimpan ya, si gas itu di situ,” ujarnya.

Sarju menerangkan gas metana diduga keluar melalui celah-celah lantai, tanah, saluran air, maupun titik lain yang terhubung bersama sumber gas di bawah permukaan.

Setelah itu, gas dapat menempel dan terkumpul pada material tertentu hingga mencapai kadar yang cukup tinggi.

“Ya barangkali perantara air atau dia keluar lewat lantai ya yang bocor ya, dia keluar lalu terakumulasi ya di material-material tadi,” ucapnya.

Ketika konsentrasi gas telah mencukupi dan bercampur bersama oksigen di udara, potensi terjadinya pembakaran menjadi makin besar. Api dapat menyala meski tidak ada pemantik lain di sekitarnya.

Kondisi itu yang diduga menjadi salah satu penjelasan mengapa sejumlah barang di dalam rumah dapat terbakar tanpa pola yang mudah dipahami masyarakat sekitar awam.

“Nanti bila jumlahnya cukup sejumlah, kena oksigen nyala dia. Gas metana itu sebenarnya bagaikan bila kita punya kompor LPG di rumah, cuma dia makin low release, kalorinya rendah,” ujarnya.

Untuk mengonfirmasi dugaan tersebut, tim UGM berencana menjalankan pengukuran ulang kandungan gas metana di lokasi kejadian pada pekan depan. Selain itu, sampel air akan diuji lantaran sejumlah titik kemunculan api semasih belumnya berada di sekitar jalur pipa air dan sumur.

“Nanti barangkali pekan depan kami akan mengangkut alat demi mengukur kandungan gas yang ada di tempat ini dan juga sampel air,” tandasnya.

Sembari menunggu hasil penelitian lanjutan, tim UGM merekomendasikan agar sirkulasi udara di dalam rumah diperbaiki. Penggunaan kipas angin maupun blower dinilai penting demi mengurangi kebarangkalian gas metana terkumpul pada satu titik dan menempel pada barang-barang di dalam rumah.

“Kami minta juga dipasang kipas angin atau blower berakibat sirkulasi udara makin bagus,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *