Limbah Filter Rokok Picu Polusi Mikroplastik Global, Lebih Berbahaya?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Filter rokok menjadi salah satu jenis sampah plastik yang teramat sejumlah mencemari lingkungan di dunia. Limbah ini tidak cuma menumpuk di jalanan, sungai, dan pesisir, namun juga berpotensi melepaskan mikroplastik serta zat beracun ke dalam ekosistem.

Menjelang Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada 31 Mei lalu, American Thoracic Society bersama mitra Forum of International Respiratory Societies (FIRS) kembali mendesak negara-negara demi menindaklanjuti keputusan yang dihasilkan dalam Konferensi Para Pihak ke-11 (COP11) Konvensi Kerangka Kerja WHO tentang Pengendalian Tembakau.

Dikutip dari laporan Phys.org, salah satu rekomendasi penting dalam COP11 merupakan mendorong negara-negara mempertimbangkan regulasi yang makin ketat terhadap komponen produk tembakau dan nikotin yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.

Mikroplastik dan Zat Beracun dari Filter Rokok

Dalam pernyataan pasca-COP11, European Respiratory Society (ERS) menegaskan bahwa filter rokok merupakan sumber pencemaran lingkungan yang signifikan. Selain menambah volume limbah, filter juga berkontribusi terhadap polusi dan emisi.

Seuntukan besar filter rokok terbuat dari selulosa asetat, sejenis plastik yang membutuhkan waktu lama demi terurai. Ketika terfragmentasi di lingkungan, material tersebut berubah menjadi partikel mikroplastik yang dapat mencemari tanah, sungai, dan laut.

ERS menyebut mikroplastik dari filter rokok berisiko tertelan oleh berbagai organisme, termasuk biota laut. Selain itu, limbah tersebut juga dapat melepaskan zat beracun bagaikan nikotin dan senyawa kimia lain ke lingkungan sekitarnya.

Hingga pada saat ini, masih belum terdapat bukti ilmiah yang memperlihatkan bahwa limbah filter rokok dapat didaur ulang secara aman dan efektif dalam skala besar.

Tidak Membuat Rokok Lebih Aman

Di sisi kesehatan, ERS menilai keberadaan filter selama ini menimbulkan persepsi keliru bahwa rokok menjadi makin aman demi dikonsumsi.

Padahal, berbagai penelitian memperlihatkan filter tidak menghilangkan risiko kesehatan akibat merokok. Bahkan, desain filter diduga dapat mendorong perokok menghirup asap makin dalam hingga mencapai untukan tepi paru-paru, yang berpotensi meningkatkan risiko adenokarsinoma paru-paru.

Selain itu, filter juga dinilai menciptakan rokok terasa makin ringan berakibat dapat meningkatkan daya tarik produk, termasuk di kalangan perokok muda.

Larangan Dinilai Jadi Solusi

Laporan tersebut turut mengkritik berbagai program pembersihan dan daur ulang filter rokok yang diklaim sebagai solusi lingkungan. Menurut FIRS dan ERS, pendekatan tersebut berisiko menjadi bentuk greenwashing lantaran dapat mengalihkan perhatian dari tanggung jawab industri tembakau terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Associate Professor of Public Health di Imperial College London sekaligus Ketua Komite Pengendalian Tembakau ERS, Filippos Filippidis, menegaskan bahwa produk tembakau dan nikotin tidak cuma membahayakan kesehatan manusia, namun juga memperburuk pencemaran lingkungan.

Menurutnya, langkah teramat efektif demi mengurangi dampak tersebut merupakan bersama menghapus dan melarang produk-produk yang menghasilkan limbah sekali pakai.

“Menghapuskan dan melarang filter rokok, serta sistem pengiriman nikotin elektronik sekali pakai, merupakan satu-satunya jalan ke depan demi mengurangi, dan pada akhirnya menghilangkan, beban lingkungan yang amat besar yang ditimbulkan oleh produk-produk ini,” ujarnya.

Penulis: Vicka Rumanti

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *