Biodiesel B50 Segera Diterapkan, Pakar Ungkap Efeknya di Mobil Tua

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pemerintah bakal dalam waktu dekat menerapkan bahan bakar biodiesel B50 pada 1 Juli 2026 mendatang. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel nasional yang semasih belumnya telah melalui tahapan B5, B20, B30, hingga B40.

Sesuai namanya, bahan bakar B50 memiliki komposisi yang seimbang, yakni terdiri dari 50 persen minyak sawit yang dipadukan bersama 50 persen solar murni. Artinya, kandungan minyak nabatinya jauh makin padat dibandingkan generasi semasih belumnya.

Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Wahyudi, menilai peningkatan kandungan ini memperlihatkan komitmen pihak pemerintah dalam mendorong transisi energi yang makin berkelanjutan.

Peningkatan kandungan biodiesel ini memperlihatkan semakin besarnya pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi,” kata Wahyudi, dikutip, Senin (22/6/2026).

Kendati memang berdampak positif, Wahyudi mengingatkan bahwa kesiapan teknologi kendaraan menjadi faktor penting dalam implementasi B50.

Menurutnya, kendaraan diesel keluaran terbaru umumnya telah dirancang demi memakai campuran biodiesel yang makin tinggi. Sementara itu, kendaraan yang berusia makin tua masih dapat memakai B50 namun bersama sejumlah catatan khusus.

Ia bilang kendaraan lama berpotensi merasakan penurunan performa dan membutuhkan perhatian makin dalam perawatan.

Dipaparkan Wahyudi, biodiesel memiliki karakteristik berbeda dibandingkan solar murni. Mulai dari viskositas (kekentalan) yang makin tinggi, densitas (kepadatan) yang makin tinggi serta nilai kalor yang makin rendah.

“Karakteristik biodiesel yang makin kental dapat memengaruhi proses pembakaran. Pada kendaraan yang makin lama, kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan performa dan tenaga dibandingkan ketika memakai solar murni,” paparnya.

Selain memengaruhi performa, penggunaan B50 berpotensi meningkatkan pembentukan endapan pada sistem bahan bakar. Hal ini rentan terjadi apabila kualitas biodiesel tidak terjaga bersama baik.

Oleh dikarenakan itu, pemilik kendaraan diesel disarankan demi makin rutin memeriksa kondisi filter bahan bakar.

Menurut Wahyudi, dampak B50 terhadap ketahanan mesin secara umum tidak terlalu signifikan. Namun, pada kendaraan berusia tua, sejumlah komponen bagaikan karet pada sistem bahan bakar berpotensi merasakan keausan makin cepat.

Belum lagi soal konsumsi bahan bakar yang berpotensi sedikit meningkat. Hal ini terjadi lantaran mesin membutuhkan pasokan makin demi menghasilkan tenaga yang setara bersama solar murni.

Ia menilai tantangan terbesar dalam implementasi B50 bukan terletak pada pengguna kendaraan, melainkan pada konsistensi kualitas biodiesel yang diproduksi. Pemerintah dan produsen perlu mengonfirmasi mutu bahan bakar tetap terjaga dari hulu ke hilir.

“Pengguna kendaraan pada dasarnya tidak perlu menjalankan penyesuaian khusus, yang makin penting merupakan mengonfirmasi kualitas biodiesel yang beredar tetap baik dan sesuai standar,” ujarnya.

Ditekankan Wahyudi, hal yang perlu diwaspadai merupakan mencegah terjadinya oksidasi. Proses oksidasi ini dapat menurunkan kualitas biodiesel selama masa penyimpanan dan distribusi.

“Jika kualitasnya terjaga, dampak negatif terhadap kendaraan dapat diminimalkan,” tambahnya.

Kendati terdapat sejumlah tantangan teknis, Wahyudi menilai pengembangan B50 merupakan langkah strategis yang positif. Langkah ini disebut amat baik dalam mendukung ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil demi masa depan energi Indonesia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *