MediaMerdeka.com – Ancaman terbaru Amerika Serikat demi menghancurkan situs nuklir bawah tanah Gunung Pickaxe memicu tanda tanya besar terkait klaim kesuksesan militer mereka semasih belumnya. Amerika Serikat kini membidik fasilitas tersembunyi di Natanz yang dilaporkan selamat dari gelombang serangan udara tahun lalu.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka memperingatkan Teheran demi bersiap menyikapi gempuran terhadap kawasan perbukitan granit tersebut. Langkah agresif ini dinilai kontradiktif bersama pernyataan Gedung Putih terdahulu yang menyebut program nuklir Iran telah sepenuhnya lumpuh.
Ketegangan baru ini mencuat cuma berselang seminggu setelah Trump sesumbar bahwa persediaan uranium Iran terkubur amat dalam. Ia menegaskan tidak ada satu pun kekuatan di dunia yang mampu menjangkaunya kecuali militer Amerika Serikat.
Sikap keras ini berbanding terbalik bersama klaim sepihak sang kepala negara pada pertengahan tahun lalu. Saat itu, ia menegaskan seluruh infrastruktur pengayaan uranium Teheran telah rata bersama tanah.
Publik kini mempertanyakan alasan Washington kembali menetapkan target baru apabila seluruh fasilitas musuh diklaim telah musnah. Kontradiksi ini mempertegas adanya miskalkulasi intelijen atau strategi propaganda yang tidak sinkron.
Gunung Pickaxe merupakan benteng pertahanan yang amat kokoh dan terletak dekat bersama kompleks nuklir Natanz yang semasih belumnya telah rusak. Di dalam perut bumi wilayah tersebut, terdapat 2 jaringan terowongan raksasa yang dicurigai menjadi pusat pengayaan uranium.
Para ahli geologi dan militer memperkirakan fasilitas rahasia ini berada sekitar 600 meter di bawah lapisan batu granit padat. Kedalaman ekstrem tersebut menciptakan lokasi ini mustahil ditembus oleh bom penghancur bunker (bunker-buster) tercanggih milik Pentagon.
Ketika jet tempur Amerika Serikat membombardir Fordow, Natanz, dan Isfahan tahun lalu, Gunung Pickaxe sama sekali tidak tersentuh. Hal ini membuktikan bahwa wilayah ini merupakan aset teramat terlindungi yang dimiliki oleh Teheran.
Kendati demikian, Trump tetap bersikeras demi melancarkan serangan udara dalam waktu dekat. Komitmen perang tersebut ia sampaikan secara langsung di depan awak media masih belum lama ini.
The Pentagon menegaskan terus memantau pergerakan di situs tersebut meski masih belum menyaksikan adanya aktivitas mencurigakan. Trump mengeklaim tekanan bertubi-tubi dari Washington menciptakan Iran frustrasi dan enggan membahas program mereka.
“Kita akan menghancurkan Gunung Pickaxe. Katakan pada orang-orang Iran demi bersiap-siap,” ujar Trump pada hari Senin.
“Kami mengawasi (Gunung Pickaxe) bersama ketat. Kami tidak menyaksikan adanya aktivitas di sana. Situasi nuklir mereka tidak berjalan baik. Setiap kali kami mendengarnya, kami meledakkannya. Jadi mereka tidak suka membicarakannya.”
Pernyataan ofensif ini memicu perdebatan mengenai akurasi laporan intelijen dan efektivitas serangan udara Amerika Serikat pada periode semasih belumnya. Trump semasih belumnya sempat membela diri bersama mengeklaim citra satelit telah membuktikan kehancuran total di kubu lawan.
Ia menekankan bahwa kehancuran massal telah terjadi di seluruh titik strategis pertahanan Iran. Namun, munculnya nama Gunung Pickaxe sebagai target baru membantah narasi kemenangan mutlak tersebut.
“Kerusakan monumental terjadi di seluruh situs nuklir di Iran, bagaikan yang ditunjukkan oleh gambar satelit,” kata Trump pada 25 Juni 2025. “Pemusnahan merupakan istilah yang akurat!”
Sebagai latar belakang, konflik bersenjata antara kedua negara sempat memuncak saat militer Amerika Serikat menggempur 3 wilayah utama Iran. Serangan udara masif tersebut difokuskan demi melumpuhkan instalasi nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Meskipun operasi setahun lalu itu diklaim sukses besar, eksistensi Gunung Pickaxe membuktikan program nuklir Teheran masih belum sepenuhnya mati. Kini, fokus geopolitik global tertuju pada respons Iran menyikapi ancaman penghancuran total berikutnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

