MediaMerdeka.com – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggempur pusat komando operasi khusus Amerika Serikat di pangkalan militer al-Tanf, Suriah.
Langkah agresif ini diambil sebagai aksi pembalasan atas tewasnya sejumlah tentara Iran di wilayah Iranshahr.
Eskalasi konflik ini mengancam stabilitas pasokan energi global secara drastis.
Pihak militer Iran menegaskan bahwa mereka kini memegang kendali penuh atas jalur maritim strategis Selat Hormuz.
Pernyataan resmi ini menjadi sinyal peringatan keras untuk pasar minyak internasional.
“Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak ada minyak atau gas yang akan diekspor melalui jalur air tersebut selama serangan baru AS terus berlanjut,” tegas pihak Garda Revolusi Iran, dikutip dari Al Jazeera.
Ancaman penghentian ekspor energi ini merespons rangkaian operasi udara yang diluncurkan oleh militer Amerika Serikat.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengklaim telah sukses menuntaskan serangan malam keenam secara berturut-turut ke wilayah Iran.
Namun, operasi militer tersebut memakan pihak korban jiwa dari masyarakat sekitar sipil.
Kantor berita Fars menginformasikan jumlah pihak korban tewas akibat serangan AS di jembatan Bandar-e Khamir, Provinsi Hormozgan, kini melonjak menjadi tujuh orang.
Konflik bersenjata ini bersama cepat merembet ke sejumlah negara tetangga di kawasan Teluk.
Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan rentetan serangan yang menyasar markas militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Suriah.
Gelombang serangan udara ini memicu respons kesiagaan tinggi dari sistem pertahanan negara-negara sekitar.
Keaparatur negara kementerianan Dalam Negeri Qatar menginformasikan seorang anak terluka akibat serpihan puing yang jatuh saat pasukan Qatar mencegat sejumlah serangan udara dari Iran.
Sementara itu, militer Yordania mengumumkan kesuksesan sistem pertahanan udara mereka dalam merontokkan tiga rudal Iran yang mengarah ke wilayahnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

