MediaMerdeka.com – Jika suhu udara pada saat ini telah terasa semakin menyengat, para ilmuwan memperingatkan bahwa kondisi tersebut kebarangkalian masih belum mencapai puncaknya. Dalam lima tahun ke depan, Bumi diperkirakan akan merasakan periode panas yang makin ekstrem, bersama risiko gelombang panas, kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan yang semakin kerap terjadi.
Peringatan itu muncul dalam proyeksi terbaru yang dirilis oleh World Meteorological Organization (WMO) dan Met Office. Laporan tersebut menyebut ada peluang 75 persen bahwa rata-rata suhu global pada periode 2026–2030 akan melampaui ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri.
Batas 1,5 derajat Celsius merupakan target yang disepakati dunia melalui Paris Agreement sebagai ambang yang relatif aman demi menghindari dampak terburuk perubahan iklim.
Meski angka tersebut terlihat kecil, para ilmuwan menegaskan bahwa setiap kenaikan sepersepuluh derajat dapat memperburuk dampak krisis iklim.
“Setiap tambahan 0,1 derajat akan mengangkut dampak yang semakin parah,” kata ilmuwan iklim Met Office, Melissa Seabrook, salah satu penulis laporan tersebut.
Rekor Panas Baru Diperkirakan Terus Pecah
Menurut laporan WMO, terdapat peluang 91 persen bahwa setidaknya satu dari lima tahun ke depan akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius. Selain itu, peluang munculnya rekor tahun terpanas baru mencapai 86 persen.
Artinya, rekor suhu global yang tercatat pada 2024 berpotensi kembali terpecahkan dalam waktu dekat.
Para ilmuwan memperkirakan suhu global tahunan hingga 2030 akan berada pada kisaran 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius makin tinggi dibandingkan akhir abad ke-19.
Kondisi tersebut dapat memicu makin sejumlah cuaca ekstrem yang selama ini mengawali dirasakan berbagai negara, mengawali dari gelombang panas berkepanjangan, hujan ekstrem, kekeringan, hingga kebakaran hutan.
Ilmuwan iklim dari Imperial College London, Friederike Otto, menyebutkan suhu yang terus meningkat berpotensi menghasilkan kejadian cuaca yang melampaui pengalaman manusia selama ini.
Menurutnya, sejumlah kota, sistem pertanian, dan infrastruktur masih belum dirancang demi menyikapi kondisi iklim yang semakin ekstrem.
Dampaknya tidak cuma berupa peningkatan risiko kematian akibat cuaca ekstrem, namun juga gangguan produksi pangan, lonjakan harga makanan, serta kebakaran hutan yang makin intens.
Arktik Memanas Lebih Cepat
Laporan tersebut juga memperlihatkan bahwa kawasan Arktik terus merasakan pemanasan jauh makin cepat dibandingkan rata-rata global.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

