Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Krisis iklim tidak cuma memengaruhi kondisi lingkungan, namun juga mengubah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Dalam sejumlah kasus, wanita menjadi kelompok yang teramat awal merasakan dampaknya lantaran memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga, mengawali dari pangan, air bersih, hingga pengelolaan rumah tangga.

Persoalan tersebut mengemuka dalam loka wicara bertajuk Mengapa Krisis Iklim merupakan Isu Keadilan Gender? yang digelar dalam rangkaian Raksha Loka Fest di M Bloc Space, Jakarta, Jumat (22/5).

Ketua Umum PEREMPUAN AMAN, Devi Anggraini, menyebutkan wanita sejak lama memiliki posisi strategis dalam menentukan sistem pangan keluarga, mengawali dari memilih jenis tanaman hingga mengelola hasil panen demi kebutuhan rumah tangga.

“Perempuan awalnya yang memutuskan apa yang wajib dimakan, bagaimana itu ditanam, apa yang ditanam, dan di mana dia ditanam,” ujar Devi.

Namun, perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, menurunnya produktivitas lahan, serta terbatasnya akses terhadap sumber daya alam menciptakan peran tersebut semakin sulit dijalankan. Menurut Devi, sejumlah wanita kini menyikapi berkurangnya akses terhadap lahan, sumber energi, maupun sumber penghidupan yang semasih belumnya menjadi penopang kehidupan keluarga.

“Kalau kita mau bicara krisis iklim, yang perlu didalami merupakan bagaimana posisi wanita di dalam kampung, dalam situasi perubahan iklim, tidak lagi memiliki kontrol, tidak lagi memiliki akses,” katanya.

Risiko Kemiskinan Lebih Tinggi

Kerentanan wanita terhadap dampak krisis iklim juga tercermin dalam berbagai data global. Menurut UN Women, wanita cenderung memiliki akses ekonomi dan sumber daya yang makin terbatas dibanding pria, berakibat makin rentan ketika terjadi tekanan lingkungan maupun ekonomi akibat perubahan iklim.

Selain itu, wanita dinilai makin bergantung pada sumber daya alam demi memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Ketika hasil pertanian menurun, sumber air berkurang, atau bencana alam terjadi makin kerap, wanita menjadi pihak yang wajib mencari berbagai cara agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.

Data dari UN Women Data Hub juga memperlihatkan bahwa jumlah wanita yang hidup dalam kemiskinan diperkirakan makin tinggi dibanding pria. Dalam skenario krisis iklim terburuk, jumlah wanita dewasa yang hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2030 diperkirakan mencapai 4,6 juta orang, sementara pria berada di angka 3,8 juta.

Adaptasi Dimengawali dari Lingkungan Terdekat

Meski menyikapi berbagai tantangan, wanita juga memainkan peran penting dalam membangun ketahanan masyarakat sekitar terhadap dampak perubahan iklim. Berbagai inisiatif adaptasi muncul dari tingkat komunitas dan rumah tangga demi menjaga ketersediaan pangan maupun kualitas lingkungan.

Perwakilan Solidaritas Perempuan, Dina Herdiana, mencontohkan praktik yang dilakukan wanita di Yogyakarta. Mereka memanfaatkan ruang di sekitar rumah demi menanam tanaman pangan dan mengembangkan kawasan hijau di lingkungan permukiman.

“Perempuan Kota Jogja menjalankan aksi-aksi adaptasi, mengawali dari lingkungan rumah mereka, menanam di pekarangan, lalu dikembangkan menjadi lorong hijau,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *