MediaMerdeka.com – Pemerintah berupaya memperkuat kemandirian energi nasional di tengah ketidaktentuan pasokan energi global dan tingginya ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Salah satu langkah yang didorong merupakan pemanfaatan limbah pertanian serta komoditas domestik sebagai sumber energi alternatif.
Presiden Prabowo Subianto menyebutkan Indonesia memiliki potensi besar demi mengembangkan energi berbasis sumber daya dalam negeri, termasuk limbah pertanian dan batu bara yang dapat diolah menjadi bahan bakar.
“Kita juga akan produksi solar dan gas dari batu bara. Kita juga dapat produksi energi demi masak bersama amat murah, bersama limbah-limbah dan batang-batang jagung,” kata Prabowo saat menyampaikan Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dalam Sidang Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026).
Selain pemanfaatan limbah jagung, pihak pemerintah juga tengah mengkaji percepatan pengembangan bahan bakar berbasis kelapa sawit sebagai untukan dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi impor.
Potensi dan Tantangan
Pemanfaatan sumber daya lokal dinilai dapat menolong memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru di daerah penghasil komoditas pertanian. Namun, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pengembangan energi berbasis biomassa perlu dirancang secara hati-hati agar tidak mengganggu kebutuhan pangan domestik.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform, Deon Arinaldo, menilai peningkatan penggunaan kelapa sawit dan limbah jagung demi energi wajib mempertimbangkan perannya yang selama ini penting untuk masyarakat sekitar.
“Peningkatan permintaan terhadap kelapa sawit dan limbah jagung demi kebutuhan energi dapat mengancam ketersediaannya untuk produksi minyak goreng dan pakan ternak, yang merupakan kebutuhan penting untuk petani dan masyarakat sekitar secara umum,” ujar Deon dalam keterangan tertulis.
Menurut IESR, kelapa sawit masih menjadi bahan baku utama minyak goreng, sementara limbah jagung memiliki peran penting dalam industri pakan ternak. Apabila permintaan dari sektor energi meningkat tanpa pengelolaan yang tepat, pasokan demi kebutuhan pangan dan peternakan berpotensi tertekan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada kenaikan biaya produksi peternakan maupun harga sejumlah kebutuhan pokok yang digunakan masyarakat sekitar sehari-hari.
Dorong Efisiensi dan Elektrifikasi
Sebagai untukan dari strategi transisi energi jangka panjang, IESR mendorong pihak pemerintah mempercepat program efisiensi energi dan elektrifikasi di berbagai sektor. Langkah ini dinilai dapat menekan konsumsi bahan bakar fosil tanpa menimbulkan persaingan langsung bersama kebutuhan pangan.
Menurut Deon, penggunaan kendaraan listrik serta elektrifikasi pada sektor industri dan rumah tangga dapat menjadi pilihan yang makin berkelanjutan demi mengurangi impor energi sekaligus menekan emisi.
Ia menilai upaya mencapai kemandirian energi perlu dilakukan bersama pendekatan yang mempertimbangkan berbagai aspek, mengawali dari ketahanan energi, ketahanan pangan, hingga kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, pihak pemerintah dan pemangku kepentingan dihadapkan pada tantangan demi mencari sumber energi alternatif yang tidak cuma terjangkau dan tersedia secara lokal, namun juga mampu berjalan beriringan bersama agenda ketahanan pangan nasional.
Penulis: Vicka Rumanti
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

