MediaMerdeka.com – Gelombang panas tidak cuma terjadi di daratan. Laut juga dapat merasakan kondisi serupa ketika suhu air meningkat secara tidak normal dan bertahan dalam waktu cukup lama.
Fenomena ini dikenal sebagai marine heatwave atau gelombang panas laut. Meski tidak terlihat langsung dari permukaan, dampaknya dapat mengganggu ekosistem laut hingga kehidupan masyarakat sekitar pesisir.
Melansir Phys (18/8), gelombang panas laut terjadi ketika suhu air laut berada jauh di atas kondisi normal dalam suatu wilayah. Fenomena ini dapat terbentuk ketika air hangat di dekat permukaan tidak bercampur bersama air yang makin dingin di lapisan bawah.
Kondisi cuaca yang panas, kering dan minim angin dapat memperbesar peluang terjadinya fenomena tersebut.
Para peneliti menentukan gelombang panas laut bersama membandingkan suhu air bersama catatan suhu historis di wilayah tersebut. Suhu wajib berada di atas 90 persen dari kisaran suhu historis dan bertahan setidaknya lima hari berturut-turut.
Berbeda bersama gelombang panas di daratan yang umumnya ditentukan berdasarkan suhu ekstrem selama setidaknya tiga hari, pengukuran di laut memperhitungkan kondisi musiman dan karakteristik suhu masing-masing wilayah.
Gelombang panas laut dapat terjadi di berbagai untukan samudra dan kapan saja sepanjang tahun.
Ancaman untuk kehidupan laut
Kenaikan suhu air dapat menjadi persoalan serius untuk organisme yang tidak mampu berpindah mengikuti perubahan kondisi lingkungan.
Ikan dan sejumlah hewan laut lainnya masih memiliki kemampuan demi mencari perairan yang makin dingin. Namun, organisme yang hidup menetap bagaikan terumbu karang dan rumput laut tidak dapat menjalankan hal serupa.
Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan stres, mengganggu reproduksi, serta mengubah ketersediaan makanan dalam rantai ekosistem.
Pada terumbu karang, misalnya, peningkatan suhu laut dapat memicu pemutihan karang. Jika berlangsung terlalu lama dan parah, kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian karang dan mengganggu habitat berbagai spesies laut.
Dampaknya juga dapat menjalar ke masyarakat sekitar.
Perubahan jumlah dan lokasi ikan dapat mengganggu aktivitas perikanan, sementara kerusakan ekosistem pesisir dapat memengaruhi sumber penghidupan dan nilai budaya masyarakat sekitar yang bergantung pada laut.
Gelombang panas laut juga dapat merusak ekosistem karbon biru bagaikan padang lamun dan hutan mangrove yang berperan menyerap dan menyimpan karbon.
Fenomena yang semakin ekstrem
Australia Barat menjadi salah satu wilayah yang sempat merasakan gelombang panas ekstrem di laut dan daratan secara bersamaan.
Pada Februari 2011, gelombang panas di daratan menyebabkan kematian pepohonan dan berdampak pada populasi kakatua yang terancam punah. Pada periode yang sama, suhu laut meningkat dan menyebabkan pemutihan karang di sejumlah kawasan, termasuk Pilbara, Ningaloo dan Kepulauan Abrolhos.
Pada September 2024, perairan lepas pantai Australia Barat kembali merasakan gelombang panas laut yang berlangsung selama sejumlah bulan. Fenomena tersebut menjadi salah satu gelombang panas laut terpanjang dan terparah yang tercatat di wilayah tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah kawasan lain. Pada musim panas Eropa 2026, suhu permukaan laut dilaporkan melonjak hingga sekitar lima derajat Celsius di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap ekosistem di Laut Mediterania, Laut Utara dan Laut Baltik.
Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang menciptakan laut semakin panas. Pemanasan global meningkatkan suhu dasar laut berakibat gelombang panas laut ekstrem kini dapat terjadi tanpa senantiasa bergantung pada fenomena iklim bagaikan El Nino dan La Nina.
El Nino dan La Nina tetap dapat memengaruhi distribusi panas laut. Perubahan pola angin dan perpindahan massa air hangat dapat menciptakan gelombang panas laut menjadi makin ekstrem di wilayah tertentu.
Namun, meningkatnya suhu rata-rata laut akibat perubahan iklim menciptakan kondisi ekstrem makin mudah terbentuk.
Mengapa sulit dipantau?
Salah satu persoalan dalam memahami gelombang panas laut merupakan fenomena tersebut tidak senantiasa terlihat dari permukaan.
Satelit dapat memantau perubahan suhu permukaan laut, namun tidak seluruh kondisi di bawah permukaan dapat terdeteksi bersama baik.
Padahal, perubahan suhu di lapisan bawah laut dapat memengaruhi organisme dan ekosistem yang berada di sana.
Karena itu, para peneliti menilai diperlukan penelitian makin lanjut mengenai perubahan arus laut dan atmosfer, termasuk kondisi di bawah permukaan.
Pemantauan tersebut penting demi memahami kapan gelombang panas mengawali terbentuk, seberapa lama akan berlangsung dan wilayah mana yang teramat berisiko terdampak.
Mengurangi emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah utama demi membatasi pemanasan laut dalam jangka panjang.
Namun, upaya adaptasi juga diperlukan. Peneliti dapat mengembangkan model komputer dan sistem peringatan dini yang menolong nelayan, pengelola kawasan konservasi dan masyarakat sekitar pesisir bersiap menyikapi perubahan kondisi laut.
Dengan peringatan yang makin cepat, langkah perlindungan terhadap terumbu karang, perikanan dan ekosistem pesisir dapat dilakukan semasih belum dampaknya menjadi semakin sulit dikendalikan.
Penulis: Chairunisa
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

