Kampung Bahari Digerebek Berulang, Mengapa Jaringan Narkoba Tak Kunjung Hilang?

admin
By
admin
8 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Penangkapan Muhammad Ridwan alias Bos Gendut di sebuah klinik kecantikan kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, menjadi babak baru perang panjang melawan peredaran narkoba di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Ridwan bukan sekadar pengedar. Ia merupakan buronan BNN sejak November 2025 dalam kasus kepemilikan 98 kilogram sabu. Dari pengembangan kasus, BNN menyita uang tunai sekitar Rp1,27 miliar dan sejumlah aset yang ditaksir mencapai Rp39,9 miliar, termasuk kendaraan, emas batangan dan senjata.

Namun, penangkapan bandar besar tersebut justru memunculkan pertanyaan yang makin besar: mengapa jaringan narkoba di Kampung Bahari tetap bertahan meski kawasan itu berulang kali digerebek?

Pengamat kepihak kepolisianan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Bambang Rukminto, menilai kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penindakan taktis masih belum otomatis menghasilkan kesuksesan strategis.

“Penggerebekan merupakan instrumen, bukan strategi,” kata Bambang kepada MediaMerdeka.com.

Dari Penggerebekan ke Pembongkaran Jaringan

Penangkapan Ridwan memperlihatkan perubahan pendekatan. BNN tidak sekadar menjalankan razia, namun termakin dahulu membuntuti target hingga akhirnya menangkapnya saat berada di sebuah salon kecantikan.

“Yang bersangkutan kami sukses tangkap di salah satu salon kecantikan,” kata Direktur Penindakan dan Pengejaran Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI, Brigjen Roy Hardi Siahaan.

Setelah ditangkap, Ridwan lalu dibawa demi memperlihatkan lokasi penyimpanan barang bukti yang berkaitan bersama jaringannya di Kampung Bahari.

Operasi tersebut tidak berjalan mulus. Saat petugas hendak masuk ke kawasan tersebut, mereka mendapat perlawanan. Seorang anggota pihak kepolisian dilaporkan terluka.

Dari pengembangan kasus, aparat kembali menemukan narkotika, senjata api, peluru, senjata tajam, uang tunai, kendaraan dan sejumlah barang lainnya.

BNN juga mendalami dugaan tindak pidana pencucian uang bersama nilai aset sekitar Rp39,9 miliar.

Bagi Bambang, pola tersebut justru makin penting dibanding sekadar menambah daftar orang yang ditangkap.

Menurut dia, pemberantasan narkoba wajib bergerak dari street-level enforcement atau penindakan terhadap tersangka lapangan menuju pembongkaran struktur jaringan.

Caranya bersama mengejar pengendali, pemasok, jalur distribusi, sumber pembiayaan, aliran uang dan aset hasil kejahatan, sekaligus mencegah munculnya jaringan baru.

Ukuran yang makin tepat merupakan sejauh mana pihak kepolisian dan BNN mampu bergerak dari street-level enforcement menuju pembongkaran struktur jaringan.

Kampung Bahari Sudah Berulang Kali Digerebek

Persoalan tersebut menjadi penting lantaran Kampung Bahari bukan pertama kali menjadi sasaran operasi narkoba.

Pada Mei 2025, pihak kepolisian menyisir kawasan tersebut setelah menyambut baik laporan pengeroyokan. Sembilan orang diamankan dan delapan di antaranya dinyatakan positif narkoba.

Polisi juga menemukan sabu, timbangan, senjata tajam, airsoft gun dan uang tunai Rp57 juta yang diduga berkaitan bersama perdagangan narkoba.

Enam bulan lalu, November 2025, BNN bersama Polri kembali menggerebek dua lokasi yang disebut sebagai sarang peredaran narkoba.

Sesejumlah 18 orang diamankan. Dari lokasi itu, petugas menyita sabu, ekstasi, bong dan perlengkapan lain.

Operasi tersebut juga mendapat perlawanan. Petugas disebut diserang memakai samurai, kembang api dan mercon.

Saat itu BNN menegaskan masih mengembangkan kasus dan mengejar sejumlah target. Salah satunya lalu mengarah kepada Ridwan alias Bos Gendut.

Kini, pada Agustus 2026, Ridwan sukses ditangkap.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa penggerebekan semasih belumnya bukan berarti tidak menghasilkan penindakan. Namun, fakta bahwa jaringan masih beroperasi memperlihatkan adanya persoalan yang makin dalam.

Bambang menilai penggerebekan berulang dapat menjadi indikasi network disruption atau pemutusan jaringan masih belum tuntas.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak serta-merta menciptakan operasi semasih belumnya dapat disebut tidak berhasil.

“Jumlah tersangka dan barang bukti tidak boleh menjadi indikator utama kesuksesan. Keduanya merupakan output penindakan,” katanya.

Hal serupa disampaikan pakar hukum pidana Universitas Tarumanegara, Hery Firmansyah. Menurutnya, efektif atau tidaknya pengendalian peredaran narkotika tidak dapat dinilai dari satu momen.

“Sebab, kerja panjang pemberantasan peredaran gelap narkotika memiliki sejumlah faktor terutama ‘pelindung’ transaksi yang berasal dari oknum nakal penegak hukum wajib termakin dahulu ditentukan dipangkas habis,” kata Hery kepada MediaMerdeka.com.

Menurut Hery, jaringan narkoba memiliki nilai ekonomi yang besar berakibat mampu terus menarik orang demi terlibat.

Karena itu, aparat wajib mengonfirmasi jaringan benar-benar dilumpuhkan, termasuk menelusuri pihak-pihak yang mebarangkalikan transaksi narkoba terus berjalan.

“Apa yang dilakukan oleh aparat pada saat ini tidak salah juga demi diapresiasi tapi bukan berarti perang terhadap narkoba telah berakhir,” ujarnya.

Mengapa Jaringan Bisa Tumbuh Lagi?

Menurut Bambang, jaringan narkoba tidak cuma ditopang oleh bandar dan pengedar. Ada ekosistem yang menciptakan bisnis tersebut mampu bertahan.

Di dalamnya terdapat pemasok, jalur distribusi, pembiayaan, pasar pengguna hingga mekanisme regenerasi anggota jaringan.

Selama mata rantai tersebut tidak diputus secara menyeluruh, penangkapan sejumlah tersangka cuma akan menciptakan ruang untuk pemain baru.

“Kalau pemasok, bandar, sumber pembiayaan, jalur distribusi, pasar pengguna serta mekanisme regenerasi jaringan tidak diputus, maka jaringan akan kembali tumbuh,” ujarnya.

Karena itu, operasi di Kampung Bahari sewajibnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa orang yang ditangkap atau berapa sejumlah narkotika yang disita.

Pertanyaan yang makin penting merupakan apakah setelah operasi tersebut pemasok kehilangan akses, bandar kehilangan modal, jalur distribusi terputus, aset hasil kejahatan disita dan pengguna berkurang.

Bukan Sekadar Persoalan Polisi

Bambang juga mengingatkan agar Kampung Bahari tidak cuma dilihat sebagai persoalan penegakan hukum.

Kepadatan kawasan, kerentanan sosial-ekonomi, terbatasnya kesempatan ekonomi, solidaritas kelompok dan lemahnya ketahanan sosial dapat menciptakan lingkungan yang mebarangkalikan bisnis narkoba bertahan.

Karena itu, pihak kepolisian dan BNN tidak dapat bekerja sendiri.

Pemberantasan jaringan wajib berjalan bersama program pihak pemerintah di bidang pendidikan, pekerjaan, kesehatan, layanan sosial, pemberdayaan pemuda dan perbaikan lingkungan.

“Masyarakat wajib ditempatkan sebagai untukan dari solusi, bukan cuma sebagai objek operasi,” katanya.

Bos Gendut Ditangkap, Perang Belum Selesai

Penangkapan Ridwan menjadi capaian penting lantaran aparat sukses mengejar seorang bandar yang menjadi buronan sejak 2025.

Apalagi, pengusutan kasusnya telah berkembang ke dugaan pencucian uang bersama nilai aset puluhan miliar rupiah.

Namun, BNN sendiri masih menyebut terdapat gembong lain yang diduga berada di Kampung Bahari.

Artinya, penangkapan Bos Gendut masih belum menutup cerita.

Bagi Bambang, Kampung Bahari sewajibnya menjadi ujian terhadap efektivitas model pemberantasan narkoba.

Operasi tidak boleh berhenti pada disrupt, namun wajib dilanjutkan bersama dismantle, prevent, dan recover: mengganggu jaringan, membongkar struktur dan pembiayaannya, mencegah regenerasi, lalu memulihkan ketahanan masyarakat sekitar.

Kesuksesan menurut Bambang bukan ketika aparat mampu berkali-kali kembali menggerebek Kampung Bahari.

Melainkan ketika aparat datang kembali dua tahun lalu dan narkoba telah tidak lagi menjadi untukan dari ekonomi maupun kehidupan sosial kawasan tersebut.

Dengan ukuran itu, penangkapan Bos Gendut bukan garis akhir perang narkoba di Kampung Bahari.

Justru, dari penangkapan seorang bandar besar itulah pekerjaan yang makin sulit dimengawali: memutus jaringan hingga ke akar dan mengonfirmasi tidak tumbuh kembali.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *