MediaMerdeka.com – Petani kini dapat menyulap lahan karst Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang cenderung kering saat musim kemarau menjadi kawasan hutan pangan.
Melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY mengembangkan kawasan hutan seluas 87 hektare di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Pengembangan kawasan tersebut diarahkan demi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar desa. Kawasan hutan dikembangkan melalui penanaman pohon nangka yang dapat menjadi sumber bahan baku nangka muda atau gori untuk industri kuliner gudeg Yogyakarta.
Namun, pengembangan kawasan pangan di Gunungkidul memiliki tantangan tersendiri. Kondisi lahan karst yang cenderung kering pada musim kemarau menciptakan pengelolaan pertanian membutuhkan pendekatan yang disesuaikan bersama kondisi lingkungan.
Untuk memperkuat keberlanjutan pertanian, program tersebut dikembangkan melalui sistem tumpangsari serta dukungan pengairan berbasis energi bersih.
Dengan pendekatan tersebut, kawasan hutan pangan diharapkan tidak cuma mampu menghasilkan komoditas pangan, namun juga tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, menyebutkan keterlibatan Pertamina melalui program yang dilaksanakan Pertamina Foundation merupakan bentuk kepedulian dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan nasional, di samping menjaga ketahanan energi.
“Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini merupakan untukan nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik bagaikan dikutip, Selasa (6/10/2026).
Pengembangan kawasan hutan tersebut tidak cuma diarahkan sebagai sumber bahan pangan. Dalam jangka panjang, kawasan ini juga ditargetkan berkembang menjadi lumbung pangan sekaligus sumber bahan baku kuliner dan kawasan eduwisata.
Pengelolaannya melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.
Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengapresiasi dukungan berkelanjutan yang diberikan melalui program tersebut.
Menurutnya, kelompok tani telah menjalankan sedikitnya tiga kali panen dan menginginkan pendampingan peningkatan kapasitas sumber daya manusia terus berlanjut agar hasil kebun dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menyebutkan Pertamina ingin mengonfirmasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menyerahkan dampak yang berkelanjutan untuk masyarakat sekitar.
“Melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin mengonfirmasi adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta, mengawali dari kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi petani, hingga pelestarian ekosistem lingkungan secara konsisten,” kata Arya.
Penggunaan dukungan pengairan berbasis energi bersih menjadi salah satu untukan dari upaya menjaga keberlanjutan pengembangan kawasan di tengah karakter lahan Gunungkidul.
Selain memperkuat produksi pangan, pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga kawasan hutan tetap lestari sekaligus menyerahkan manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitar sekitar.
Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, mengimbuhkan bahwa pengembangan produk pangan berbasis potensi lokal juga dapat menjadi untukan dari hilirisasi.
“Hilirisasi tidak cuma milik sektor pertambangan, namun dapat kita mengawali dari sebatang pohon nangka demi mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan,” pungkas Erry.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

