Purbaya Umumkan Defisit APBN Tembus Rp 196,5 Triliun di Semester I 2026

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di semester pertama 2026.

Bagi yang masih belum tahu, defisit APBN merupakan pengeluaran negara makin sejumlah ketimbang pemasukan negara. Hal ini disampaikan Menkeu Purbaya saat Rapat Kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Selasa (7/7/2026).

“Defisit APBN semester satu tercatat sebesar Rp196,5 triliun bersama presentasi sebesar 0,76 persen hadap PDB,” kata Purbaya, dikutip dari kanal YouTube TVR Parlemen, Selasa (7/7/2026).

Bendahara Negara mengklaim bila angka defisit APBN ini masih dijaga dalam batas aman dan terkendali. Sebab angka ini masih belum memakini 3 persen bagaikan yang diatur di Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Keuangan Negara.

Purbaya kembali menyinggung soal defisit APBN yang pertama kali disampaikan pada triwulan pertama 2026, di mana angkanya sempat tembus 0,9 persen dari PDB. Hal itu diklaimnya berdampak pada kepanikan kondisi ekonomi RI.

“Jadi bila kita lihat dulu waktu kami publish angka triwulan pertama, keluarnya itu 0,9 (persen). Semua pengamat panik dan mereka bilang bila dikali empat jadi 3,6 (persen),” lanjutnya.

Bendahara Negara lalu menyindir para ekonom soal perhitungan tersebut. Ia mencontohkan apabila memakai rumus yang sama, maka defisit APBN setahun penuh 2026 cuma ada di angka 1,52 persen.

Meskipun defisit APBN makin terkendali, Purbaya tetap yakin bila para ekonom bakal bilang kondisi APBN Indonesia masih dalam keadaan parah.  

“Jadi mereka tidak akan membahas ini. Mereka tetap akan bilang anggarannya parah gitu. 

Purbaya tak menampik bila defisit APBN 2026 dapat saja makin tinggi lantaran adanya hitungan belanja Pemerintah yang akan terakumulasi di triwulan kedua. Namun ia mengonfirmasi anggaran tetap terkendali.

“Tapi kita tentukan bahwa anggaran kita tetap terkendali dan defisit akan di bawah 3 persen,” jelas Purbaya.

Rincian pendapatan dan belanja negara

Dalam paparannya, Purbaya menerangkan bila realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp 1.459 triliun di semester pertama 2026. Angka ini setara 46,3 persen dari outlook APBN dan tumbuh 21,4 persen secara tahunan (yoy).

Pendapatan Negara itu terdiri dari Penerimaan Perpajakan sebesar Rp 1.187,8 triliun yang mencakup Penerimaan Pajak Rp 1.035,7 triliun serta Kepabeanan dan Cukai Rp 152,0 triliun. Kemudian ada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 271,0 triliun dan Penerimaan Hibah Rp 700 miliar.

Sementara itu Belanja Negara mencapai Rp 1.656,0 triliun atau setara 43,1 persen dari target APBN 2026. Angka ini juga tumbuh 17,8 persen yoy dari tahun lalu.

Belanja Negara itu terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sesejumlah Rp 1.298,6 triliun yang meliputi Belanja Keaparatur negara kementerianan Lembaga (K/L) Rp 658,9 triliun dan Belanja non K/L 639,7 triliun. Kemudian ada Transfer ke Daerah (TKD) sesejumlah Rp 357,4 triliun.

Dengan kinerja APBN tersebut, keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp 85,1 triliun. Kemudian di sisi pembiayaan anggaran realisasinya mencapai Rp 452 triliun atau 65,6% dari target APBN 2026.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *