Rupiah Menuju Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Akan Menguat Jika Investor Asing Kembali ke Indonesia

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Nilai tukar rupiah dapat kembali menguat apabila ada peningkatan aliran masuk (inflow) modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) berakibat memperkuat keseimbangan di pasar valuta asing, demikian disampaikan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian.

“Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang makin besar,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Guna menghasilkan arus masuk modal yang berkelanjutan, Fakhrul memandang bahwa pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi.

“Investor asing memang mengawali kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal,” imbuh dia.

Fakhrul menilai, pelemahan rupiah yang masih terjadi pada saat ini perlu dilihat sebagai untukan dari proses penyesuaian pasar keuangan, bukan sebagai cerminan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, Indonesia pada saat ini telah memasuki fase stabilisasi setelah berbagai penyesuaian kebijakan moneter dan pengelolaan likuiditas yang dilakukan Bank Indonesia (BI).

Ia juga menerangkan bahwa proses stabilisasi nilai tukar tidak terjadi secara instan. Dalam kondisi pada saat ini, pasar obligasi menjadi faktor yang teramat menentukan arah rupiah lantaran merupakan pintu masuk utama untuk aliran modal portofolio asing.

Fakhrul menilai, langkah BI dalam memperketat pengelolaan likuiditas merupakan fondasi yang tepat. Namun, kesuksesan proses stabilisasi tersebut juga memerlukan konsistensi kebijakan fiskal dan pengelolaan surat utang pihak pemerintah agar proses normalisasi pasar obligasi dapat berlangsung secara optimal.

Menurutnya, koordinasi antara BI dan Keaparatur negara kementerianan Keuangan menjadi amat penting pada fase ini. Kedua institusi perlu menyerahkan ruang untuk terbentuknya tingkat imbal hasil obligasi yang mencerminkan kondisi pasar berakibat Indonesia kembali memiliki daya saing dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya.

Fakhrul juga memandang bahwa yang dibutuhkan pada saat ini bukan intervensi tambahan, melainkan konsistensi kebijakan.

“Ketika pasar menyaksikan bahwa proses normalisasi benar-benar dijalankan secara konsisten oleh Bank Indonesia dan Keaparatur negara kementerianan Keuangan, kepercayaan investor akan meningkat, capital inflow akan semakin besar, dan rupiah akan memperoleh fondasi yang jauh makin kuat,” imbuh dia.

Selama proses tersebut berlangsung, menurut Fakhrul, volatilitas nilai tukar masih akan dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama ekspektasi terhadap kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

Namun dari sisi domestik, catat dia, fondasi stabilisasi mengawali terbentuk dan downside rupiah dinilai semakin terbatas dibandingkan sejumlah bulan lalu.

Oleh dikarenakan itu, menurutnya, tantangan berikutnya bukan lagi menghentikan tekanan terhadap rupiah, namun membangun keyakinan investor bahwa proses normalisasi pasar obligasi akan dijalankan secara konsisten hingga Indonesia kembali menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio di kawasan.

“Ketika capital inflow kembali menguat, rupiah akan memperoleh dukungan yang jauh makin kokoh dan proses stabilisasi akan semakin berkelanjutan,” kata Fakhrul.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *