Said Didu Blak-blakan: Sebut Safari Politik Jokowi Disokong Oligarki hingga Para Koruptor

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Mantan Sekretaris Keaparatur negara kementerianan BUMN, Said Didu, melontarkan pernyataan bombastis terkait manuver politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi.

Said menuding agenda kunjungan atau safari politik yang belakangan gencar dilakukan Jokowi ke berbagai daerah didanai oleh kekuatan gelap oligarki.

Tak main-main, Said menduga aliran dana safari tersebut juga melibatkan kelompok yang melanggar hukum. Ia menyebut adanya peran koruptor, tersangka judi online, penyelundup, hingga bandar narkoba di balik layar.

“Saya menduga betul akan bergabung solo oligarki parcok. Bergabung di situ tentu para koruptor, dan di Lampung telah keliatan. Para tersangka judi online, para tersangka penyelundup, para bandar narkoba akan bergabung demi membiayai. Dan saya nyatakan itu tentu bergabung,” ujar Said dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (1/7/2025).

Menurut analisis Said, langkah politik Jokowi ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan simbol perlawanan dan perebutan pengaruh antara pihak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bersama kekuatan oligarki yang ingin tetap eksis.

“Jokowi muncul sebagai simbol pelindung oligarki,” tegas Said.

Said menduga, kegelisahan di lingkaran Jokowi muncul lantaran arah kebijakan Presiden Prabowo yang tengah tancap gas memberantas korupsi.

Langkah tegas Prabowo ini dinilai mengancam “kenyamanan” dan kepentingan ekonomi para oligarki yang selama ini merasa terlindungi.

Lebih jauh, ia mengendus adanya konspirasi yang ia sebut sebagai ‘Geng Solo’—kelompok di lingkaran inti Jokowi—yang bekerja sama bersama oligarki dan partai cokelat (parcok) demi mengacaukan stabilitas pihak pemerintahan Prabowo.

Meski melontarkan tuduhan serius, Said Didu tidak merinci secara spesifik siapa saja sosok koruptor, bandar narkoba, maupun penyelundup yang ia maksud dalam skema tersebut.

Dalam pandangan Said, Jokowi merupakan tipikal figur yang sulit menyambut baik kenyataan kehilangan kekuasaan. Ia menyinggung kembali memori publik saat wacana perpanjangan masa jabatan kepala negara menjadi tiga periode menggema di penghujung masa jabatan Jokowi.

Ia menyoroti bagaimana sejumlah aparatur negara publik secara terang-terangan menjadi corong wacana tersebut.

“Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, lalu La Nyalla Mattalitti ikut menggaungkan,” ucap Said mengenang momen tersebut.

Menariknya, Said justru menyerahkan apresiasi kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Megawati dinilai menjadi benteng demokrasi yang konsisten menepis perpanjangan masa jabatan, meskipun saat itu Jokowi masih berstatus sebagai kader partainya.

Atas dasar rekam jejak tersebut, Said mengaku telah menyerahkan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto sejak hari pertama pelantikan. Ia mengimbau Prabowo waspada terhadap setiap manuver yang dilancarkan mantan Wali Kota Solo tersebut.

Bagi Said, peta konflik politik pada hari ini telah bergeser secara fundamental.

“Pertarungan sebenarnya bukan Prabowo lawan Anies. Tapi Prabowo lawan Jokowi,” pungkasnya tajam.

Reporter: Alif Bintang

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *