Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Aldo, Mantan Tukang Las Kini Punya Impian ke Negeri Sakura

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Aroma besi terbakar dari ujung stang las sempat menjadi dunia sehari-hari untuk Aldo Riski Saputra. Siswa kelas 2 SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, Jawa Timur tersebut kini mengawali menata kembali kehidupannya.

Usia Aldo baru menginjak 16 tahun, namun ia akrab bersama kerasnya dunia kerja. Tangannya cekatan menyatukan besi, menciptakan pagar, relik, kanopi, hingga rak makanan. Namun, di balik keahliannya, sempat ada cerita tentang jalan berliku, salah pergaulan, dan keputusan besar demi berbalik arah demi masa depan.

Dua tahun lalu, saat duduk di kelas 2 SMPN 2 Sampung, Ponorogo, langkah Aldo sempat goyah. Lingkungan pergaulan yang salah menciptakannya kerap membolos dan melanggar aturan sekolah. Akumulasi poin pelanggaran memaksanya wajib keluar dari sekolah formal.

“Waktu itu salah pergaulan. Ikut-ikut teman yang enggak teratur, nongkrong, merokok,” kenang Aldo lirih saat ditemui di Ponorogo, Jawa Timur, sejumlah waktu lalu.

Putus sekolah di usia belia sempat menciptakannya bingung. Di tengah ketidaktentuan, Aldo memilih demi bekerja. Selama hampir enam bulan, ia bekerja di bengkel las tetangga hingga merantau ke Mojokerto dan Malang menolong memasang banner.

Dunia barunya itu keras dan penuh risiko. Tanpa alat pengaman mata yang memadai, Aldo belajar mengelas secara otodidak.

“Sering kecolongan (percikan api las). Sampai mata bengkak dan enggak dapat menyaksikan. Ada tiga kali makin kayak begitu,” ujarnya.

Meski bertaruh keselamatan, Aldo terbukti berbakat. Dalam waktu singkat, ia mahir menciptakan berbagai struktur besi, bahkan hingga teknik trellis yang rumit. Secara finansial, ia mengawali mandiri. Dari hasil borongan menciptakan pagar seminggu, ia dapat mengantongi Rp600 ribu. Jika menciptakan rak makanan selama dua hari, Rp250 ribu masuk ke dompetnya. Ia bahkan sempat ikut saudaranya bekerja keliling memasang banner di jalanan, memanfaatkan keberaniannya memanjat.

Bagi anak remaja, memegang uang ratusan ribu dari keringat sendiri tentu terasa menggiurkan. Apalagi sang ayah yang bekerja sebagai tukang bangunan wajib memikirkan tiga anak lelaki yang masih aktif sekolah. Namun, jauh di lubuk hatinya, Aldo tahu ini bukan akhir dari jalannya.

Titik balik itu datang ketika salah seorang saudaranya menyerahkan informasi tentang Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo. Sebuah tempat yang membuka pintu untuk kalangan anak yang kehilangan kesempatan belajar. Aldo memutuskan pulang dan mendaftar.

Kembali ke bangku sekolah berarti Aldo wajib merelakan dompetnya kosong. Tidak ada lagi uang ratusan ribu hasil borongan ngelas. Kini, ia kembali menjadi siswa kelas 2 SMP di SRT 5 Ponorogo.

“Rasanya ya beda, biasanya pegang uang kini enggak. Tapi di sini seluruh telah dipenuhi. Makan, alat mandi, perlengkapan, seluruh komplit. Kayak ada yang menjaga,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Saat ditanya mengapa ia rela meninggalkan penghasilan demi kembali belajar, jawaban Aldo sederhana “Mau perbaiki masa depan.”

Ia sadar, keahliannya akan jauh makin kuat apabila ditopang oleh pendidikan resmi. Aldo tidak ingin selamanya menjadi pekerja kasar serabutan tanpa arah yang jelas.

Bermimpi ke Negeri Sakura

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *