MediaMerdeka.com – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengklaim bila kenaikan laju inflasi tidak akan berpengaruh pada kualitas gizi yang diberikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wamenkeu menyebut bila pada saat ini laju inflasi masih aman lantaran angkanya tetap dalam proyeksi Pemerintah sebesar 2,5 persen bersama kisaran toleransi ±1 persen.
Makanya program MBG diklaimnya tak akan terpengaruh inflasi bagaikan makanan atau kualitas gizi yang dikurangi.
“Saya kira bila inflasinya masih 2,5% plus minus 1%, itu masih dalam range kita. Enggak akan mempengaruhi kualitas dari gizinya. Ya. Saya kira room atau ruang 2,5 plus minus 1 persen itu tidak akan mempengaruhi kualitas makanannya dan kualitas gizinya,” katanya dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026).
Maka dari itu Pemerintah terus menjaga laju inflasi agar tidak terlalu berdampak ke masyarakat sekitar menengah ke bawah, khususnya inflasi pangan.
Juda menilai pada saat ini Pemerintah memiliki otoritas yang berwenang dalam mengendalikan inflasi bagaikan Keaparatur negara kementerianan Dalam Negeri (Kemendagri) dan Bank Indonesia (BI).
“Soal pengendalian harga pangan ini kan terus dilakukan oleh Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Keaparatur negara kementerianan Dalam Negeri dan seterusnya,” jelasnya.
Semasih belumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) merasakan inflasi sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month) pada September 2026.
Angka tersebut mendorong peningkatan IHK dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada September 2026.
Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi secara tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 3,28%, sementara itu inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 2,17%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa inflasi pada September 2026 utamanya dipicu oleh pergerakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Pada September tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,30% secara bulanan atau month-to-month-nya, atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada September tahun 2026. Secara tahun ke tahun atau year-on-year terjadi inflasi sebesar 3,28%. Secara tahun kalender atau year-to-date terjadi inflasi sebesar 2,17%,” ujar Ateng dalam konferensi pers yang dipantau virtual, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan komponennya, inflasi bulanan September 2026 teramat dominan didorong oleh komponen harga bergejolak (volatile food) yang merasakan inflasi sebesar 1,46% dan menyerahkan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 0,24%.
Kelompok volatile food ini yakni berupa komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan kangkung.
Sementara itu, komponen inti merasakan inflasi 0,10% bersama andil 0,06% yang dominan didorong oleh biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.
Adapun komponen harga yang diatur pihak pemerintah merasakan inflasi mendekati nol, bersama bensin sebagai pendorong utama inflasi dan tarif angkutan udara menyumbang andil deflasi.
“Inflasi September tahun 2026 yang telah saya sebutkan tadi yakni 0,30% utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak. Komponen harga bergejolak merasakan inflasi sebesar 1,46%. Komponen ini menyerahkan andil inflasi terbesar, yakni andilnya 0,24%,” jelas Ateng.
Secara sebaran wilayah, BPS mencatat 36 dari 38 provinsi di Indonesia merasakan inflasi secara bulanan, bersama inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 3,53%.
Sebaliknya, dua provinsi mencatatkan deflasi, bersama deflasi terdalam berada di Nusa Tenggara Timur sebesar 0,35%.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

