2 ABK WNI Selamat dari Serangan Drone di Selat Bab Al-Mandeb Alami Luka-luka

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Serangan drone secara mendadak menghantam kapal MV Tihamah saat berakhir melintas di Selat Bab Al-Mandeb, Yaman, pada Selasa (11/8/2026). Dua awak kapal WNI Indonesia lainnya ditentukan selamat, di mana 1 orang memerlukan rawat inap dan 1 lagi cuma menderita luka ringan.

Insiden berdarah di kawasan Selat Bab Al-Mandeb tersebut berdampak langsung pada 3 masyarakat sekitar negara Indonesia yang bekerja sebagai anak buah kapal. Pemerintah Indonesia melalui Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri kini bergerak cepat memverifikasi kabar tewasnya seorang pelaut tanah air dalam peristiwa itu.

Serangan udara di jalur pelayaran vital Laut Merah ini menyoroti kembali besarnya risiko keselamatan pelaut domestik di wilayah konflik Timur Tengah. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah membeberkan bahwa para WNI tersebut merupakan awak kapal MV Tihamah yang diserang drone saat bersandar di Pelabuhan Bab Al-Mandeb.

Keterangan resmi ini sekaligus memperjelas identitas armada laut yang menjadi target tembakan hulu ledak udara tersebut.

“Dari tiga ABK WNI, satu ABK merasakan luka ringan akibat serpihan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, sementara satu ABK lainnya merasakan luka dan telah mendapat perawatan di rumah sakit,” ucap Heni dalam pernyataan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Selasa Malam.

“Satu ABK WNI lainnya diberitakan oleh sejumlah media internasional meninggal dunia dalam insiden tersebut. Namun, informasi tersebut masih dalam proses verifikasi,” tambah Heni.

Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri terus menyinkronkan data lapangan bersama perwakilan diplomatik guna mengonfirmasi kondisi mutakhir seluruh awak.

Bagaimana Langkah Diplomatik Indonesia Mengawal Keselamatan Para Pelaut?

Perwakilan RI di Oman langsung membangun saluran komunikasi intensif bersama para pelaut yang berada di atas kapal kargo tersebut.

Kapal dagang MV Tihamah sendiri berlayar bersama memboyong 11 orang personel, mencakup delapan masyarakat sekitar negara Pakistan dan tiga pelaut Indonesia.

Otoritas diplomatik mengonfirmasi koordinasi lintas lembaga terus berjalan demi mengumpulkan kejelasan informasi mengenai nasib pihak korban.

“KBRI Muscat juga tengah berkomunikasi bersama otoritas terkait demi memperoleh konfirmasi resmi mengenai kondisi dan keberadaan ABK WNI yang bersangkutan,” kata dia.

Pemerintah berjanji menyerahkan pendampingan penuh serta bantuan kedaruratan untuk para pekerja migran sektor bahari tersebut.

Langkah pemulangan atau repatriasi menuju tanah air siap dilakukan apabila situasi keamanan di perairan Yaman telah mebarangkalikan.

“KBRI Muscat turut mempertimbangkan fasilitasi kepulangan para ABK WNI ke tanah air apabila kondisi dan situasi mebarangkalikan,” demikian Heni.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *