Mulai September 2026, Purbaya Ubah Strategi Ekonomi RI Hadapi Era Perdagangan Bebas

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti soal dampak perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) terhadap kinerja ekonomi dan proses industrialisasi Indonesia.

Menkeu Purbaya menilai bahwa Pemerintah tidak cukup cuma menyaksikan dampak negatif perdagangan bebas, namun wajib menentukan industri mana yang masih memiliki peluang demi diselamatkan dan dikembangkan.

Ia pun mengimbau Keaparatur negara kementerianan Keuangan (Kemenkeu) menjalankan analisis mendalam terhadap sektor industri yang terdampak perdagangan bebas. Sebab Purbaya mau pihak pemerintah memiliki strategi yang jelas, terutama terhadap industri yang masih memiliki potensi pertumbuhan.

“Analisis yang masih dapat diselamatkan, demi dua pilihan terakhir langkah kita apa, Kemenkeu dapat apa, itu yang saya butuhkan,” ujarnya, dikutip dari siaran pers, Senin (24/8/2026).

Bendahara Negara menyebut bila mengawali September 2026, pendekatan Kemenkeu akan diarahkan demi menggali berbagai potensi ekonomi, termasuk peluang yang muncul dari perjanjian perdagangan bebas.  

“Jadi bulan September ke depan kita rubah approach Kemenkeu dari potensi ekonomi termasuk free trade agar pertumbuhan ekonomi dapat laju kencang minimal di 6 persen di akhir 2026,” tambahnya.

Ia memaparkan, Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam mempelajari dampak liberalisasi perdagangan. Saat berbagai skema perdagangan bebas mengawali berkembang, pihak pemerintah sewajibnya dapat memetakan sektor industri yang berpotensi melemah ketika pasar dibuka.

Purbaya menyebutkan setidaknya terdapat tiga pilihan terhadap industri yang terdampak. Pertama, membiarkan industri tersebut mati. Kedua, membiarkannya bertahan secara perlahan tanpa intervensi besar. Ketiga, menyerahkan perlindungan dan dukungan agar industri tersebut kembali tumbuh.

Oleh lantaran itu, Menkeu ingin pihak pemerintah menjalankan pemetaan berdasarkan dampak nyata terhadap masing-masing industri. Industri yang benarbenar tidak memiliki prospek perlu diidentifikasi, sementara sektor yang masih dapat diselamatkan wajib memperoleh strategi yang tepat.

Menkeu juga menekankan adanya kategori keempat, yakni industri baru yang pada saat ini masih belum menjadi kekuatan utama Indonesia namun memiliki prospek pertumbuhan tinggi.

Salah satu contoh yang ia soroti merupakan data center. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar demi menarik investasi pusat data, namun pihak pemerintah wajib mengonfirmasi ketersediaan energi demi mendukung perkembangan industri tersebut.

Selain itu, Menkeu juga menyaksikan peluang dari kerja sama perdagangan Indonesia bersama Eropa, khususnya terkait produk yang memakai energi baru terbarukan. Ia menerangkan, fasilitas perdagangan tersebut dapat menjadi peluang untuk industri Indonesia demi meningkatkan daya saing ekspor.

Menkeu mencontohkan sektor tekstil dan alas kaki yang berpotensi memperoleh keuntungan dari penggunaan energi terbarukan dalam proses produksinya. Purbaya bahkan membuka kebarangkalian memperkuat investasi energi panas bumi melalui PT Geo Dipa Energi demi mendukung kawasan industri.

“Saya kan punya Geo Dipa, saya dapat drill makin sejumlah geotermal, saya invest di situ demi memberi energi ke suatu pusat industri tekstil atau industri tekstil yang telah ada, berakibat dia dapat ekspor ke Eropa bersama makin kompetitif,” jelasnya.

Selanjutnya, Menkeu menyampaikan bahwa pendekatan tersebut menggambarkan pihak pemerintah tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa dampak perdagangan bebas masih masih belum jelas.

Sebaliknya, pihak pemerintah wajib menemukan sektor mana yang memiliki peluang demi berkembang dan lalu menentukan intervensi yang diperlukan.

Menkeu juga menyaksikan bahwa tantangan perdagangan bebas bukan semata-mata persoalan ancaman untuk industri dalam negeri. Justru, FTA wajib dimanfaatkan demi mengidentifikasi peluang baru, meningkatkan daya saing industri, memperkuat energi, menarik investasi, serta mendorong ekspor bernilai tambah. 

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *