Jadi Polemik, BPS Ungkap Alasan Warga Ekonomi Rendah Masuk Kelompok Desil Tinggi

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Penentuan desil kesejahteraan belakangan menjadi sorotan masyarakat sekitar. Sejumlah masyarakat sekitar mempertanyakan hasil pemeringkatan lantaran ada keluarga bersama kondisi ekonomi rendah yang justru tercatat dalam kelompok desil tinggi.

Menanggapi hal ini, Badan Pusat Statistik (BPS) menerangkan cara penentuan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

BPS menyebut desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan, bukan ukuran tunggal demi menentukan kondisi ekonomi sebuah keluarga.

“Desil memperlihatkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga,” jelas Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Amalia menerangkan, keluarga diperingkatkan berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Setelah itu, keluarga diuntuk menjadi 10 kelompok yang masing-masing mencakup sekitar 10 persen keluarga.

Desil 1 merupakan kelompok bersama tingkat kesejahteraan relatif teramat rendah, sementara itu desil 10 merupakan kelompok bersama tingkat kesejahteraan relatif teramat tinggi.

“Desil 1 merupakan kelompok bersama tingkat kesejahteraan relatif teramat rendah, sementara itu desil 10 merupakan kelompok bersama tingkat kesejahteraan relatif teramat tinggi,” kata Amalia.

Karena bersifat relatif, keluarga yang masuk desil tertentu tidak otomatis memiliki pendapatan, pengeluaran, maupun kondisi sosial ekonomi yang sama.

Misalnya, keluarga pada desil 3 berarti berada pada kelompok ketiga dari 10 kelompok dalam pemeringkatan kesejahteraan relatif.

Amalia menyebutkan, penentuan desil tidak cuma didasarkan pada penghasilan keluarga. Kepemilikan satu jenis barang, daya listrik, pekerjaan, maupun satu indikator tertentu juga tidak secara otomatis menentukan posisi desil.

Pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersamaan.

Faktor yang digunakan antara lain kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi demi memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, serta disabilitas.

“Pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, yakni kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi demi memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, serta disabilitas,” terang Amalia.

Berbagai informasi tersebut lalu diproses memakai metode statistik proxy means test (PMT) demi mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati.

Karena memakai kombinasi sejumlah karakteristik, satu kondisi yang terlihat pada sebuah keluarga tidak serta-merta menciptakan keluarga tersebut masuk desil tertentu.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *