Gibran Makin Rajin Muncul di Krisis MBG, Respons Pemerintah atau Bangun Citra Politik?

admin
By
admin
9 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di tengah guncangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini memantik perhatian publik.

Tak sebatas meninjau teknis lapangan, ia melangkah makin jauh bersama menemui keluarga pihak korban dugaan keracunan, menjamin seluruh biaya pengobatan ditanggung negara, hingga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas nama pihak pemerintah.

Langkah responsif ini menghadirkan pertanyaan krusial: mengapa Gibran memilih turun langsung di titik-titik krisis MBG?

Gibran Muncul di Tengah Rentetan Masalah MBG

Pertanyaan soal peran Wapres Gibran mengemuka ketika program MBG berulang kali diterpa persoalan. Di tengah rentetan dugaan keracunan, Gibran tercatat setidaknya dua kali turun langsung menemui pihak korban sepanjang September 2026.

Pada 11 September, Gibran mendatangi pihak korban dugaan keracunan MBG di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dua pekan makin lalu, pada 28 September, ia kembali turun ke lapangan bersama mengunjungi pihak korban yang dirawat di RSUD Limpung dan Puskesmas Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Di Batang, Gibran mengimbau pasien yang masih dirawat memperoleh pelayanan hingga pulih dan mengonfirmasi keluarga tidak dibebani biaya pengobatan. Ia turut mengimbau mekanisme penjaminan biaya benar-benar berjalan di fasilitas kesehatan.

“Prioritas pertama merupakan kesehatan pihak korban. Pasien yang masih dirawat wajib mendapat pelayanan sampai pulih, sementara masyarakat sekitar yang telah pulang namun keluhannya kembali muncul wajib tetap mudah mengakses pemeriksaan lanjutan,” kata Gibran.

Frekuensi kunjungan dan momentum kehadiran Gibran itu yang lalu memunculkan berbagai penilaian publik.

Dari Meminta Maaf sampai Meminta Anak Membawa Bekal

Kehadiran Gibran di tengah persoalan MBG tidak berhenti pada pertemuan bersama pihak korban dan permintaan maaf.

Semasih belumnya di Karo, Gibran mengimbau anak yang masih belum pulih tidak dipaksakan kembali ke sekolah. Ia juga menyarankan agar anak mengangkut bekal dari rumah selama proses pemulihan. Dalam kunjungan tersebut, Gibran juga menyampaikan permintaan maaf atas nama pihak pemerintah.

Dalam kunjungannya ke Batang, ia bahkan menyampaikan pesan langsung kepada keluarga pihak korban mengenai makanan yang dikonsumsi anak setelah merasakan dugaan keracunan.

Pesan Gibran di Batang lalu terdengar makin tegas setelah ia berdialog bersama orang tua siswa. Pernyataan itu terekam dalam video dan lalu beredar luas di media sosial.

“Bawa bekel dari rumah, MBG jangan dimakan,” ujar Gibran saat berbicara bersama salah satu orang tua siswa di Batang.

Di lokasi yang sama, Gibran tidak cuma menyerahkan imbauan kepada keluarga pihak korban. Ia mengimbau proses investigasi dugaan keracunan dalam waktu dekat diberakhirkan dan hasilnya disampaikan secara terbuka kepada keluarga.

Kenapa MBG Menjadi Panggung yang Strategis?

Rangkaian kunjungan Gibran tersebut berlangsung pada program yang menjadi salah satu prioritas utama pihak pemerintahan Prabowo-Gibran. Pemerintah sendiri menempatkan MBG sebagai program strategis, bersama cakupan penerima manfaat yang terus diperluas.

Maka dari itu, setiap persoalan dalam pelaksanaan MBG tidak cuma menjadi masalah teknis di tingkat penyedia makanan. Kasus dugaan keracunan juga langsung bersentuhan bersama kalangan anak, orang tua, sekolah, layanan kesehatan, dan kepercayaan publik terhadap program pihak pemerintah.

Di tengah situasi tersebut, Gibran memilih masuk langsung ke ruang yang teramat sensitif, yakni bertemu pihak korban dan orang tua mereka. Di Batang, ia meninjau rumah sakit dan puskesmas, lalu berdialog bersama wali murid di sekolah yang terdampak.

Pesan yang dibawa Gibran pun tidak semata mempertahankan keberlanjutan program. Ia mengimbau pihak korban mendapat penanganan, investigasi dipercepat, hasilnya dibuka kepada keluarga, serta tata kelola MBG diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang.

Posisi tersebut menciptakan Gibran tampil bukan cuma sebagai aparatur negara yang datang ketika program pihak pemerintah bermasalah. Ia mengambil ruang komunikasi langsung bersama penerima manfaat.

Dari sini, pertanyaan mengenai posisi politik Gibran menjadi relevan demi diuji makin jauh.

Apakah kehadiran berulang di tengah krisis MBG cuma bentuk respons seorang Wapres terhadap persoalan program pihak pemerintah, atau sekaligus menjadi untukan dari upaya membangun identitas politiknya sendiri?

Adakah Motif Politik di Balik Pergerakan Gibran?

Intensitas Gibran turun langsung menemui pihak korban MBG lalu memunculkan pembacaan yang berbeda. Di satu sisi, langkah tersebut dapat dilihat sebagai bentuk tanggung jawab Wakil Presiden ketika program pihak pemerintah menyikapi persoalan serius.

Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi menilai kehadiran Gibran di tengah pihak korban memperlihatkan pihak pemerintah tidak lepas tangan.

“Pemerintah melalui representasi Gibran memperlihatkan pihak pemerintah terus hadir di saat rakyatnya tengah tertimpa musibah,” ujar Ari.

Menurut dia, kehadiran langsung aparatur negara negara dapat menjadi pesan bahwa persoalan yang menimpa masyarakat sekitar mendapat perhatian pihak pemerintah.

“Setidaknya Gibran memberi sinyal bahwa dirinya bukan sosok yang selama ini terkonstruksikan dalam pandangan publik sebagai orang “yang tidak dapat bekerja” namun merupakan figur dari orang yang dapat bekerja bahkan mengambil celah yang selama ini luput dari perhatian Presiden dan para pembantunya,” ungkap Ari.

Namun, pembacaan berbeda muncul dari Guru Besar UGM, Gabriel Lele. Ia menyaksikan pergerakan Gibran di tengah krisis MBG juga berpotensi menjadi ruang demi membangun panggung politiknya sendiri.

“Ini kan telah mengawali menjelang, kita tahulah ya ada riak-riak di antara beliau berdua (Prabowo-Gibran). Sehingga saya kira Wapres ingin memanfaatkan momentum tertentu ya demi mengawali mencari panggung politik,” kata Gabriel.

Perbedaan pembacaan tersebut juga menyentuh batas antara fungsi Gibran sebagai Wakil Presiden dan upaya membangun positioning politik.

Kunjungan langsung memang dapat menjadi untukan dari respons pihak pemerintahan, namun pola kemunculan, pesan yang disampaikan, dan ruang publik yang dipilih menciptakan langkah itu sekaligus dapat dibaca dalam konteks pembentukan citra politik.

Membedakan Respons Krisis dan Manuver Politik

Pandangan lain disampaikan Guru Besar Ilmu Politik UMY Ridho Al-Hamdi. Ia menilai pola kunjungan Gibran dapat dibaca sebagai upaya membangun citra kepedulian di tengah persoalan MBG.

“Ya bangun citra ajalah, gitu, ya pola-pola yang dilakukan bapaknya,” kata Ridho kepada MediaMerdeka.com, Kamis (1/10/2026).

Namun, demi membedakan respons krisis bersama manuver politik, ukurannya tidak cukup cuma menyaksikan seberapa kerap aparatur negara datang ke lokasi pihak korban.

Ridho menilai langkah yang makin substantif justru wajib terlihat dari perubahan kebijakan dan evaluasi terhadap program.

“Stop dulu MBG, program MBG ini, gitu loh. Stop dulu program MBG, lalu adakan evaluasi total,” tegas Ridho.

Ukuran tersebut penting lantaran sejauh ini kunjungan Gibran makin sejumlah terlihat dalam bentuk respons dan komunikasi publik.

Selain itu, perlu dilihat apakah respons pihak pemerintah menghasilkan pembenahan tata kelola MBG. Menurut dia, berbagai masukan dari pemerhati dan organisasi masyarakat sekitar perlu menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar diimbangi bersama pembentukan citra positif.

Dengan demikian, menyebut langkah Gibran sebagai manuver politik masih memerlukan indikator yang makin konkret.

Pertanyaan kuncinya bukan cuma apakah Gibran hadir di tengah pihak korban, namun apakah kehadiran itu menghasilkan keputusan, evaluasi, atau perubahan kebijakan yang dapat dirasakan penerima manfaat.

“Nah, bila benar-benar peduli ya jangan lalu diteruskan begini. Tapi ya apa sih prioritas pendidikan? Yang penting kan ya gaji para gurunya, fasilitasnya. Lah, gimana ada makan tapi fasilitas sekolahnya buruk?” ujar Ridho.

Pada akhirnya, tanpa perubahan kebijakan yang terukur, langkah tersebut tetap dapat dibaca dalam dua sisi: sebagai respons seorang Wapres terhadap krisis sekaligus komunikasi publik yang berpotensi membentuk citra politik.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *