Lingkaran Setan Kekerasan, 70 Persen Ayah yang Memukul Ternyata Pernah Jadi Korban Masa Kecil

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Budaya kekerasan terhadap anak dinilai masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman di Indonesia.

Save the Children Indonesia mengungkap, praktik kekerasan dalam pengasuhan kerap diwariskan lintas generasi dan akhirnya terbawa hingga lingkungan pendidikan.

Direktur Senior Bidang Advokasi, Kampanye dan Hubungan Pemerintahan Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat, menyebutkan sejumlah orang tua yang menjalankan kekerasan terhadap anak justru sempat merasakan hal serupa saat kecil.

“Dalam catatan Save the Children, 70 persen ayah yang menjalankan pukulan bagaikan ini merupakan sempat merasakan pukulan. Jadi sebenarnya ini memperlihatkan satu warisan kekerasan,” kata Tata dalam seminar bertajuk Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

Menurut dia, pola kekerasan yang diwariskan tersebut lalu melahirkan fenomena toxic parents yang tanpa sadar meneruskan pola pengasuhan kasar kepada kalangan anak mereka.

Tata menegaskan perlindungan anak sewajibnya menjadi gerakan bersama yang diterapkan di seluruh ruang kehidupan anak, mengawali dari rumah, sekolah, hingga lingkungan sosial.

“Perlindungan anak itu juga dapat menjadi semacam mainstreaming, pengarusutamaan. Karena urusan ini ada demi setiap anak dimanapun dia berada,” ujarnya.

Ia menerangkan, kekerasan terhadap anak yang selama ini terlihat di publik sebenarnya cuma puncak gunung es.

Di balik kasus yang mencuat, terdapat persoalan budaya, pola pikir, hingga struktur sosial yang makin besar.

Tata menyoroti masih adanya keyakinan bahwa kekerasan merupakan cara efektif demi mendisiplinkan anak. Bahkan, menurutnya, seuntukan guru masih mempercayai pola tersebut.

“Di Timur kita sempat dengar ‘di ujung rotan ada emas’ lantaran menganggap bersama dipukuli itu begitu,” katanya.

Padahal, lanjut Tata, pendekatan kekerasan justru dapat memicu trauma berkepanjangan dan membentuk siklus kekerasan baru ketika anak tumbuh dewasa.

Dalam paparannya, Tata juga mengungkap hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024 memperlihatkan adanya pergeseran pola kekerasan.

Jika semasih belumnya dominan dilakukan orang dewasa, kini kekerasan antar teman sebaya justru menjadi yang teramat sejumlah terjadi.

“Sekarang yang muncul di 2024 ini kekerasan antar teman yang teramat sejumlah, bukan lagi dari orang dewasa. Media sosial menjadi salah satu pendorongnya,” ungkap dia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *