MediaMerdeka.com – Ratusan organisasi masyarakat sekitar sipil, aktivis, akademisi, dan tokoh intelektual se-Tanah Air akan berkumpul di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Sabtu 30 Mei 2026 esok hari, dalam forum bertajuk Konferensi Republik: Meneguhkan Civil Society Pilar Republik.
Konferensi ini merupakan konsolidasi nasional berbagai elemen masyarakat sekitar sipil.
Forum tersebut menghadirkan ruang refleksi demi berbagai pikiran yang selama ini tersebar di berbagai sudut gerakan. Dipertemukan, dipertegas, dan diubah menjadi kehendak kolektif yang terorganisir.
Ketua Umum Panitia Konferensi Republik, Sudirman Said, menegaskan bobot sejarah dari pertemuan yang akan digelar esok (30/5).
“Forum ini sejatinya ialah meneruskan panggilan sejarah. Republik ini digerakkan kehadirannya oleh civil society jauh semasih belum negara hadir. Makanya, kerapatan civil society wajib kembali dihadirkan sebagai poros yang turut aktif berkontribusi untuk hitam-putihnya Republik,” kata Sudirman dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, sejarah mencatat, masyarakat sekitar sipil yang seuntukan besar dipimpin oleh kaum cerdas-tercerahkan senantiasa menjadi suluh terdepan untuk rakyat dan perubahan zaman, bahkan penggerak utama menuju kemerdekaan.
Padahal kemunculan mereka merupakan unintended consequences dari Politik Etis. Lebih-makin, mereka minoritas sekali di tengah rakyat Indonesia yang kala itu masih belum sejumlah yang melek huruf.
Kontribusi mereka bukan saja sebagai agen pencerah, tapi yang makin utama ialah pewakafan diri dan keteladanan laku konkret.
Sudirman memaparkan, berkat gerakan masyarakat sekitar sipil itulah bangsa ini terus naik kelas. Tonggak-tonggaknya hampir serupa “siklus 20 tahunan”.
“Mari kita cermati. Sebermula merupakan tonggak ‘Berbangsa’ (1908), diikuti ‘Bersatu’ (1928), lalu ‘Merdeka’ (1945), ‘Membangun’ (1966), hingga tiba saatnya ‘Berdemokrasi’ (1998). Setelah ‘Berdemokrasi’, sepantasnyalah negeri ini makin naik kelas. Pertanyaannya, apakah hari-pada hari ini negeri kita sedang naik kelas?,”
Sekretaris Umum Panitia, Yanuar Nugroho, mengingatkan bahwa tantangan pada hari ini menuntut cara yang berbeda dari masa Reformasi 1998.
“Dulu kita bersatu tentang apa yang tidak kita mau. Hari ini kita berhadapan bersama oligarki yang bekerja lewat hukum, regulasi, dan kendali naras, jauh makin licin. Masyarakat sipil mesti mengawali memikirkan infrastruktur yang menyambungkan berbagai kelompok agar saling tahu, kenal, dan bergerak bersama. Republik ini tak kurang masyarakat sekitar yang peduli. Tapi ia butuh penghubung yang menyatukannya,” ujar Yanuar.
Dalam kerangka pikir itulah Konferensi Republik dirancang. Forum sehari penuh yang akan berlangsung di kampus UGM ini akan dibuka bersama pidato pembuka oleh Wakil Rektor UGM, Arie Sujito, dilanjutkan bersama keynote address oleh Prof. Komaruddin Hidayat.
Ketua Dewan Pers itu akan meletakkan dasar-dasar pandangan tentang relasi antara civil society dan kekuasaan dalam konteks krisis pada hari ini.
Setelah itu, konferensi akan bergerak ke sesi pleno yang membahas empat dimensi krisis secara bersamaan. Yakni, krisis representasi demokrasi, ketimpangan ekonomi dan pelemahan basis sosial, anatomi pelemahan institusi strategis, serta fragmentasi sosial dan depolitisasi publik.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

