MediaMerdeka.com – Donald Trump menyikapi celah kebijakan yang kian sempit demi meredam lonjakan inflasi dan stagnasi upah dalam kurun 3 bulan menjelang pemilu dan di tengah perang AS – Iran. Keterbatasan instrumen ekonomi mendadak ini memberi ruang untuk Partai Demokrat demi merebut kendali di AS.
Tekanan finansial masyarakat sekitar makin memuncak akibat perang bersama Iran serta penerapan tarif impor baru yang memicu kenaikan harga pangan dan bahan bakar. Pemerintah dinilai enggan mengenyampingkan instrumen politik luar negeri tersebut meski dampaknya membebankan masyarakat sekitar.
Pilihan darurat bagaikan pemuntukan cek insentif atau pelepasan cadangan minyak dinilai pengamat justru memicu pembengkakan anggaran jangka panjang.
“Tidak sejumlah pilihan yang tersedia dalam kerangka waktu 14 minggu yang biayanya di lalu hari tidak makin besar daripada manfaat yang diberikannya pada saat ini,” kata Patrick Harker, seorang profesor di Wharton School University of Pennsylvania sekaligus mantan kepala negara Federal Reserve Bank Philadelphia, dikutip dari LA Times, Jumat (31/7/2026).
Langkah Bank Sentral AS (The Fed) menahan suku bunga acuan turut memperpanjang ketidaktentuan inflasi dalam negeri AS. Keputusan ini menepis tekanan Trump yang menginginkan penurunan suku bunga guna menekan biaya pinjaman.
Kerusakan fasilitas kilang minyak di Timur Tengah akibat konflik menciptakan pemulihan harga BBM mustahil tercapai dalam waktu dekat. Dampak lanjutan dari biaya logistik ini telah mengendap pada penetapan harga barang pokok di tingkat pengecer.
Sejarah pemilu memperlihatkan partai penguasa kerap kehilangan kursi Parlemen ketika masyarakat sekitar memandang kondisi perekonomian secara pesimistis. Fenomena ini muncul di tengah laju bursa saham yang tinggi dan ketahanan pasar tenaga kerja.
Penurunan harga konsumen pada Juni lalu tidak bertahan lama setelah konflik militer AS dan Iran kembali memanas. Laju pertumbuhan ekonomi AS tercatat lambat di angka 1,5 persen pada kuartal kedua pada tahun ini.
Harga rata-rata BBM nasional merangkak naik memakini 4 dolar AS per galon seiring naiknya harga minyak mentah Brent ke posisi 90 dolar AS per barel. Eskalasi militer kedua negara memicu gangguan rantai pasok energi global secara beruntun.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan bahwa pemulihan ekonomi telah menjadi prioritas utama sejak hari pertama pihak pemerintahan.
“Menurunkan biaya, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan upah, dan mempercepat pertumbuhan.”
Ia mengimbuhkan bahwa investasi skala besar sukses ditarik masuk, serta harga obat resep dan bahan pokok tertentu sukses ditekan.
“mendorong situasi Iran menuju penyelesaian yang sukses, rakyat Amerika dapat mengandalkan terus meningkatnya laju pertumbuhan upah riil dan ekonomi.”
Trump secara terbuka mengklaim kondisi ekonomi domestik dalam keadaan kuat bersama menunjuk pembukaan pabrik otomotif baru. Ia turut mengecam langkah Bank Sentral yang memilih tidak mengubah tingkat suku bunga acuan.
“Mereka ingin mempertahankan suku bunga tetap tinggi, namun kami akan berjuang menyikapi hal ini,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

