Anak-anak Pemikul Air di Gaza, Tinggalkan Sekolah Hingga Alami Kerusakan Tulang Belakang

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Puluhan ribu anak pengungsi di Jalur Gaza terpaksa menanggung beban fisik ekstrem demi memasok kebutuhan pokok harian keluarga mereka. Rutinitas mengangkut jeriken air berbobot puluhan kilogram memicu ledakan kasus gangguan kesehatan tulang belakang dan hernia di kalangan anak usia sekolah.

Kerusakan infrastruktur sebesar 90 persen memicu krisis air bersih teramat parah sepanjang sejarah wilayah terkepung tersebut. Seuntukan besar anak wajib mengorbankan waktu belajar di tenda edukasi cuma demi mengantre bantuan air yang tidak menentu kedatangannya.

Bocah sepuluh tahun bernama Maysara Zaqout wajib menghentikan pelajaran bahasa Inggris saat mendengar kedatangan truk tangki air di kamp Maghazi. Ia melangkah tergesa mengangkut wadah demi mengonfirmasi pasokan harian demi enam anggota keluarganya terpenuhi.

“Keluarga saya tidak memiliki persediaan air di dalam tenda—baik demi minum, mencuci peralatan makan, maupun keperluan kamar mandi,” ujar Maysara kepada Al Jazeera.

“Saya wajib bergegas mengisi wadah-wadah kami semasih belum airnya habis.”

Perjuangan fisik mengangkut air bersih sejauh berkilometer-kilometer kerap menyisakan rasa sakit luar biasa pada tubuh kalangan anak yang sedang tumbuh. Pengalaman getir tersebut dirasakan langsung oleh Yamen Saleh yang baru berusia 12 tahun bersama adiknya.

“Setiap kali saya mengangkut air ke tenda, saya merasa lelah dan kesakitan, terutama di untukan bahu dan punggung. Terkadang saya tersandung dan jatuh lantaran wadah airnya amat berat. Rasanya amat menyakitkan dan memalukan,” kata Yamen.

Kondisi keletihan fisik tanpa henti ini menghancurkan energi kalangan anak yang sewajibnya digunakan demi belajar dan berinteraksi sosial secara wajar. Ibu kandung Yamen meratapi kenyataan pahit yang wajib dihadapi buah hatinya setiap hari.

“Hati saya hancur menyaksikan kalangan anak saya berbaring di dalam tenda, kelelahan akibat beban hidup di pengungsian,” ujar Fidaa.

“Perjalanan sehari-hari demi memperoleh air dan makanan menguras seluruh tenaga mereka—tenaga yang sewajibnya digunakan demi belajar dan bermain bagaikan kalangan anak lain di seluruh dunia. Hal ini juga memengaruhi nafsu makan dan kualitas tidur mereka.”

Bagaimana Krisis Air Merusak Kesehatan Anak-Anak Gaza?

Tim medis di klinik darurat Gaza tengah mengonfirmasi lonjakan tajam kasus medis bagaikan skoliosis dan kejang otot ekstrem pada pasien anak. Penyakit struktur tulang ini dahulu amat jarang ditemukan pada rentang usia sekolah semasih belum konflik memuncak.

Dokter Sumaya Salah menangani pasien sembilan tahun bernama Raghad yang didiagnosis merasakan pembengkokan tulang belakang permanen akibat mengangkut air. Kondisi tersebut berisiko memicu komplikasi seumur hidup apabila tidak dalam waktu dekat memperoleh perawatan medis memadai.

Krisis pasokan diperparah oleh pembatasan ketat blokade yang menghambat pengiriman bahan bakar generator pump air serta suku cadang alat berat. Wali Kota Maghazi menerangkan bahwa wilayahnya kini cuma memiliki satu armada tangki air demi melayani kebutuhan makin dari 5.000 keluarga pengungsi.

“Saya terkejut ketika putri saya masuk ke tenda sambil terisak-isak dan memegang mangkuk kosong,” ujar Huda Zaqout ketika menceritakan penggalan yang tidak berhasil memperoleh jatah makanan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *