MediaMerdeka.com – Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini menempatkan Turki sebagai episentrum ancaman keamanan baru untuk Israel di tengah panasnya persaingan politik menjelang pemilu. Langkah politik ini kian nyata setelah jet tempur Israel menggempur Pangkalan Udara Abu al-Dahar di Syria untukan utara.
Operasi militer tersebut menyasar wilayah yang diklaim sebagai titik persiapan pengerjaan infrastruktur pertahanan militer Ankara. Manuver udara ini langsung memicu perdebatan sengit mengenai motif sebenarnya dari pihak pemerintah Israel.
Peristiwa ini menandai pergeseran fokus pertahanan Israel yang kini secara terbuka membenturkan kekuatan militernya bersama pengaruh Turki di kawasan. Publik kini mempertanyakan apakah aksi tersebut murni pencegahan bahaya atau sekadar alat pendongkrak suara.
Secara resmi, otoritas pertahanan Israel menegaskan tindakan militer di Syria merupakan langkah krusial yang tidak dapat ditawar. Dikutip dari CNN Internasional, Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz mengklaim intelijen menemukan rencana pengerjaan alutsista Turki.
Sumber militer Israel menegaskan Ankara berniat menempatkan personel, drone, hingga sistem pertahanan udara di pangkalan tersebut. Kehadiran instalasi militer itu dinilai dapat membatasi ruang gerak udara Israel.
Data intelijen terkait rencana pengerjaan militer Turki tersebut bahkan telah diuntukkan kepada pihak pemerintah Amerika Serikat dan Presiden Syria Ahmed Al-Sharaa. Kedua negara tetangga tersebut sebenarnya sempat menjalin dialog intensif demi menjaga stabilitas kawasan.
Kepala badan intelijen Mossad Roman Goffman bahkan menggelar pertemuan mendatangkan Menteri Luar Negeri Syria Asaad al-Shaibani di Yordania guna meredam ketegangan. Namun, Turki menepis keras narasi ancaman yang dihembuskan pihak Israel.
Ankara menyebut alasan Israel tidak masuk akal dan menuduh Netanyahu sengaja memicu instabilitas regional demi kepentingan politik pemilu Oktober. Pemerintah Turki menegaskan kerja samanya bersama Syria berlandaskan dasar hukum yang sah.
Di sisi lain, Netanyahu terus melancarkan serangan verbal secara terbuka terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan. Melalui akun resminya, kantor Perdana Menteri Israel mengecam pimpinan Turki tersebut secara tajam.
Perselisihan kedua pemimpin ini sebenarnya telah berlangsung lama dan kian meruncing sejak pecahnya perang di Gaza, Lebanon, dan Iran. Netanyahu juga secara tegas menentang rencana penjualan pesawat tempur F-35 AS kepada Ankara.
Analis senior keamanan dari surat kabar Haaretz, Amos Harel, menilai ada dua aspek yang berjalan bersamaan dalam peristiwa ini. Menurutnya, potensi ancaman militer Turki dan kepentingan politik domestik Netanyahu sama-sama memiliki peran kuat.
Harel menerangkan bahwa Netanyahu menerapkan doktrin baru pasca-serangan 2023, yakni menyerang makin dulu di setiap front pertempuran. Israel sendiri telah menduduki zona penyangga seluas 400 kilometer persegi di Syria sejak jatuhnya rezim Assad pada 2024.
Namun, pengamat dan politisi oposisi menilai momentum gempuran udara ini amat sarat bersama agenda pemilu. Pemimpin oposisi Yair Lapid menyindir tindakan pihak pemerintah yang dianggap terlalu mengagungkan serangan militer tersebut.
Kritik makin keras datang dari Yair Golan yang menyebut operasi militer tersebut amat provokatif dan membahayakan keselamatan negara. Mantan Perdana Menteri Ehud Barak bahkan menuding Netanyahu sengaja menciptakan krisis demi menakut-nakuti pemilih.
“Di Timur Tengah, menyerang saat diperlukan itu penting. Namun apabila Anda telah menyerang, tetaplah diam,” kata Yair Lapid.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

