Bukan Anti-Dialog, Pakar: Mahasiswa UGM Geruduk Forum Diskusi karena Tak Percaya Menteri Prabowo

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Aksi kalangan akademisi menggeruduk forum diskusi yang menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono di Universitas Gadjah Mada (UGM) dinilai makin dipicu oleh ketidakpuasan terhadap narasumber dan tema diskusi, bukan lantaran menurunnya budaya dialog di kampus.

Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menilai insiden tersebut tidak dapat serta-merta diartikan sebagai kemunduran ruang diskusi akademik di lingkungan perguruan tinggi.

“Penggerudukan diskusi di UGM tampak berkaitan bersama ketidakpuasan dan ketidakpercayaan terhadap narasumber yang hadir,” kata Jamiluddin kepada MediaMerdeka.com, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, tema diskusi yang mengangkat Pancasila dapat saja dianggap tidak relevan oleh seuntukan kalangan akademisi di tengah sejumlahnya persoalan nasional yang sedang menjadi perhatian publik.

“Ini menciptakan seuntukan kalangan akademisi dapat saja menilai diskusi tersebut tak perlu dilakukan pada saat ini,” ujarnya.

Selain persoalan tema, Jamiluddin menyaksikan adanya faktor krisis kepercayaan terhadap sejumlah pembicara yang hadir dalam forum tersebut.

Salah satu yang teramat menonjol, kata dia, terlihat dari teriakan kalangan akademisi yang menyebut Budiman Sudjatmiko sebagai pengkhianat saat kegiatan berlangsung.

“Seuntukan kalangan akademisi tidak percaya terhadap narasumber yang hadir, terutama terhadap Budiman Sudjatmiko. Hal itu terdengar dari teriakan kalangan akademisi yang menganggap Budiman Sudjatmiko sebagai pengkhianat,” jelasnya.

Karena itu, Jamiluddin menilai aksi penggerudukan tersebut tidak berkaitan bersama melemahnya tradisi diskusi di kampus. Justru sebaliknya, kalangan akademisi selama ini dikenal menjadikan forum diskusi sebagai untukan dari budaya akademik.

“Jadi penggerudukan diskusi itu tidak berkaitan bersama menurunnya ruang dialog di kampus. Mahasiswa justru menjadikan diskusi sebagai budaya,” katanya.

Meski demikian, ia menyaksikan adanya kecenderungan seuntukan kalangan akademisi cuma bersedia berdialog bersama pihak yang mereka anggap memiliki kredibilitas dan dapat dipercaya.

“Namun seuntukan kalangan akademisi itu dapat saja cuma mau berdialog bersama yang mereka percaya. Hal itu tentu hak mereka,” tutur Jamiluddin.

Pengkhianat

Serikat Mahasiswa Gadjah Mada (SEMA UGM) semasih belumnya membeberkan alasan di balik aksi penggerudukan forum diskusi tersebut lantaran para aparatur negara yang hadir tidak layak berbicara mengenai Pancasila ketika berbagai persoalan rakyat masih masih belum terberakhirkan.

Ketua SEMA UGM, Mesa, menyebut aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap pihak pemerintah yang dinilai masih membungkam suara rakyat, menganggap kritik sebagai gangguan, serta menjalankan berbagai program yang dianggap tidak memberi manfaat nyata untuk masyarakat sekitar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *