MediaMerdeka.com – Hantaman rudal dan drone terhadap infrastruktur kecerdasan buatan di Timur Tengah menandai babak baru keterancaman fisik pusat data global. Eskalasi konflik Iran dan Amerika Serikat kini merusak rantai pasok teknologi yang bernilai ribuan triliun rupiah.
Pusat data kecerdasan buatan kini berubah menjadi sasaran empuk pertempuran fisik militer di luar ranah siber. Perubahan strategi Iran yang menyerang titik vital ekonomi kawasan Teluk terbukti langsung melumpuhkan tulang punggung komputasi dunia.
Kehancuran fisik fasilitas komputasi awan menghancurkan klaim aman negara-negara Teluk sebagai pusat AI dunia. Hubungan geopolitik dan integrasi teknologi raksasa Amerika Serikat kini memicu risiko kehancuran infrastruktur digital secara mendadak.
Setidaknya lima fasilitas komputasi awan di kawasan Teluk hancur akibat gempuran saling balas antara pasukan Iran dan Amerika Serikat. Kompleks Amazon Web Services di Bahrain bahkan merasakan kerusakan parah akibat hantaman rudal susulan Iran.
Gangguan layanan komputasi awan di kawasan Teluk terus berlangsung sejak serangan perdana menghantam fasilitas Amazon pada akhir April 2026. Citra satelit mengonfirmasi kerusakan masif pada fisik bangunan pusat data tersebut.
Garda Revolusi Iran mengaitkan sasaran fasilitas teknologi bersama jaringan operasi intelijen militer Amerika Serikat. Pihak militer Iran mempublikasikan daftar 29 target teknologi kawasan yang mencakup fasilitas milik Amazon, Google, Microsoft, Nvidia, dan Palantir.
Keterlibatan korporasi teknologi dalam proyek pertahanan udara Amerika Serikat menjadikan pusat data swasta sebagai target militer sah. Amazon bersama Google, Microsoft, dan Oracle memegang kontrak senilai 9 miliar dolar AS dalam proyek Joint Warfighting Cloud Capability.
Investasi AI bernilai makin dari 2 triliun dolar AS dari negara-negara Teluk kini berada di garis depan konflik militer. Kesepakatan pelepasan teknologi Tiongkok demi bermitra bersama Amerika Serikat justru membuka celah kerentanan baru.
Ancaman fisik ini merusak kepercayaan global terhadap ambisi Teluk demi menjadi pusat kekuatan AI ketiga di dunia. Helima Croft dari RBC Capital Markets menilai situasi ini memperlihatkan peran nyata raksasa teknologi dalam perang.
“Secara kasatmata, serangan dan ancaman ini berupaya merusak kepercayaan terhadap kawasan Teluk sebagai pusat inovasi dan investasi AI,” kata Helima Croft.
“Peristiwa ini menyoroti peran korporasi teknologi dalam perang serta sejauh mana Amerika Serikat bersedia membela mereka.”
Penggunaan drone berbiaya murah mebarangkalikan Iran melancarkan serangan fisik yang menimbulkan kerugian ekonomi amat besar. Strategi ini amat efektif merusak infrastruktur penting tanpa membutuhkan biaya perang yang mahal.
Fasilitas data modern sulit dibedakan antara pemanfaatan sipil dan kebutuhan komando militer di lapangan. Penggabungan fungsi komersial dan pertahanan menciptakan batas sasaran perang menjadi amat kabur.
Andrew Reddie dari University of California, Berkeley, menyebut pusat data komersial kerap menyimpan informasi sensitif militer. Karakteristik ini menciptakan bangunan teknologi Amerika Serikat terlihat bagaikan sasaran militer yang nyata untuk lawan.
“Fasilitas tersebut tidak menempelkan stiker khusus,” ujar Andrew Reddie. “Pusat data dapat menyimpan data militer sekaligus digunakan demi tujuan pasar pada saat bersamaan.”
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

