Perbatasan Ceuta Jebol, Migran Maroko Berenang ke Spanyol

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pemerintah Spanyol menerjunkan unit militer ke Ceuta guna mengamankan wilayah eksklave Afrika Utara tersebut dari lonjakan hebat ribuan migran yang menerobos masuk. Langkah darurat ini diambil setelah sedikitnya 15 orang tewas tenggelam saat berupaya melintasi laut dari Maroko pada Kamis lalu.

Kepanikan di kawasan pantai memuncak ketika sistem pengawasan perbatasan lumpuh total dan ribuan orang nekat melintasi jetty pembatas. Putusan Mahkamah Agung Spanyol pada bulan ini yang melarang pengembalian langsung migran ke Maroko dinilai memicu gelombang kedatangan besar-besaran tersebut.

Keaparatur negara kementerianan Dalam Negeri Spanyol menuding sindikat perdagangan manusia memanfaatkan celah hukum itu demi mendorong penyeberangan ilegal secara masif.

“Angkatan bersenjata akan memperkuat Guardia Civil dalam menjalankan kewenangannya dan kewenangan lain yang barangkali diperlukan demi menjaga keamanan di kota Ceuta,” tegas pihak Keaparatur negara kementerianan Dalam Negeri Spanyol.

Kondisi penerimaan penampungan migran kini merasakan overload parah hingga menciptakan otoritas lokal kewalahan menyikapi krisis. Pemimpin lokal Ceuta, Juan Jesús Vivas, mendesak pihak pemerintah pusat demi dalam waktu dekat mengambil tindakan konkret dan menyelamatkan wilayahnya.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dijadwalkan meninjau lokasi secara langsung pada Jumat demi mengonfirmasi situasi kembali terkendali. Ia berjanji akan dalam waktu dekat mengembalikan stabilitas dan memulihkan keamanan wilayah perbatasan tersebut secepat barangkali.

Krisis perbatasan ini langsung menyulut reaksi keras dari Italia yang mengancam akan mengambil langkah-langkah luar biasa. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mempertimbangkan demi membekukan perjanjian bebas visa Schengen khusus demi akses dari Spanyol.

Meloni menegaskan pandangannya melalui akun media sosial terkait rekaman kondisi terkini di Ceuta yang dinilainya amat mengkhawatirkan.

Ia menulis di X bahwa gambar-gambar dari Ceuta begitu mengejutkan, serta membuktikan bahwa imigrasi ilegal yang tidak terkendali menimbulkan ancaman nyata untuk keamanan perbatasan Eropa.

Pernyataan senada juga disuarakan oleh Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani yang menilai krisis ini mengancam stabilitas kawasan. Namun, tuduhan tersebut langsung mendapat balasan menohok dari pihak diplomatik Spanyol.

Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Luis Albares mengkritik keras Tajani lantaran dianggap memanfaatkan isu imigrasi demi kepentingan politik praktis.

Estimasi media lokal menyebutkan sekitar 2.000 hingga 3.000 orang sukses menyeberang ke Ceuta dalam kurun waktu sehari. Bentrokan fisik tak terhindarkan di sejumlah titik penerobosan sepanjang perbatasan darat maupun laut.

Di Fnideq, kota Maroko yang berbatasan langsung bersama Ceuta, aparat keamanan Maroko menembakkan meriam air demi membubarkan kerumunan migran. Sementara di Melilla, rekaman video memperlihatkan bentrokan sengit antara massa dan petugas di pintu perbatasan Beni Ansar.

Latar belakang ketegangan ini mengingatkan pada insiden besar Mei 2021 lalu, ketika 8.000 migran menerobos Ceuta dalam hitungan hari. Kejadian kala itu sempat memicu krisis diplomatik panjang antara pihak pemerintah Spanyol dan Maroko.

Ceuta dan Melilla merupakan dua wilayah eksklave Spanyol yang menjadi satu-satunya perbatasan darat langsung antara Uni Eropa dan benua Afrika. Meski pengamanan dan benteng perbatasan terus diperketat dalam sejumlah tahun terakhir, arus imigrasi ilegal tetap sulit dihentikan secara total.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *