Bukan Cuma Penonton, Gus Yahya Ingin NU Jadi ‘Active Player’ di Isu Strategis Global

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyoroti pergeseran identitas ke-NU-an yang semakin cair di tengah masyarakat sekitar Indonesia.

Gus Yahya menekankan perlunya mendefinisikan kembali NU di tengah tantangan zaman yang berubah.

Hal itu disampaikannya dalam acara “Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU” di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Gus Yahya menerangkan, bahwa pada saat ini batas-batas sosial dan kultural yang dulu menandai masyarakat sekitar NU telah merasakan peleburan yang signifikan.

“Gus Dur tahun 80-an memperkenalkan wacana tentang pesantren sebagai subkultur dan kini telah enggak ada lantaran batas sosial, batas kultural telah hilang seluruh, telah lebur,” jelas Gus Yahya bagaikan dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).

Selain peleburan kultural, Gus Yahya memaparkan data lonjakan drastis masyarakat sekitar yang mengaku sebagai masyarakat sekitar NU secara eksplisit.

Merujuk pada berbagai survei, angka populasi Muslim yang mengaku NU meningkat dari sekitar 27 persen pada tahun 2005 menjadi sekitar 57,2 persen pada tahun 2024.

“Ini luar biasa. Bayangkan dalam waktu cuma 18 tahun,” katanya.

“Lalu NU dipersepsikan sebagai barang apa kini? Sementara, ya, kita menyadari realitas kehidupan NU sendiri itu juga merasakan perubahan-perubahan,” sambungnya.

Menghadapi cairnya persepsi publik, Gus Yahya menilai struktur organisasi NU (Jam’iyyah) wajib diperkuat agar tetap menjadi rujukan utama dalam mendefinisikan jati diri NU.

Ia mendorong adanya transformasi model kepemimpinan dari yang bersifat kasual menjadi makin formal.

“Kalau struktur tidak dapat menjadi rujukan dari ta’rif NU, maka justru struktur ini yang lalu larut ke dalam persepsi ke-NU-an yang awam di tengah-tengah masyarakat sekitar luas dan itu secara kultural telah mengawali terjadi,” tegasnya.

“Maka itu yang saya tawarkan ketika saya mencalonkan diri di Lampung itu bahwa saya ingin menjalankan konsolidasi struktural bersama mentransformasikan model struktural NU dari model kasual menjadi model yang makin formal,” tambahnya.

Mengenai dinamika politik domestik, Gus Yahya menegaskan komitmen NU demi tetap berada pada jalur Khittah, yakni menjaga jarak dari politik kekuasaan.

Hal ini didasari data bahwa pemilih NU tersebar luas di berbagai partai politik, mengawali dari Gerindra, PDIP, Golkar, hingga PKB.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *