Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Apakah Lewat Indonesia?

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Fenomena gerhana matahari total bakal melintasi Greenland, Islandia, dan Spanyol pada 12 Agustus 2026 mengawali pukul 15.34 GMT. Peristiwa astronomi langka ini menutup permukaan matahari hingga dua menit 18 detik dan menjadi yang pertama di daratan Eropa sejak 1999. Sayangnya Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 esok hari tidak lewat Indonesia.

Sekitar 15 juta penduduk yang berada di jalur lintasan utama (path of totality) berkesempatan menyaksikan kegelapan total secara langsung. Sementara itu, hampir 980 juta jiwa atau seperdelapan populasi bumi dapat menikmati pemandangan gerhana matahari seuntukan.

Jalur kegelapan total dimengawali dari kawasan Arktik semasih belum akhirnya melintasi wilayah Eropa Barat dan berakhir saat matahari terbenam. Dikutip dari Al Jazeera, fenomena ini menawarkan pemandangan langka untuk masyarakat sekitar di sepanjang koridor perlintasan bulan.

Kota-kota besar di Spanyol Utara dan Timur bagaikan Leon, Valladolid, Zaragoza, Teruel, hingga Valencia masuk dalam zona bayangan inti. Pada wilayah barat Spanyol, fase total dimengawali sekitar pukul 18.27 GMT atau 20.27 waktu setempat bersama durasi hingga 110 detik.

Meski Madrid dan Barcelona berada sedikit di luar koridor utama, penduduk di kedua kota tersebut tetap merasakan penutupan piringan surya makin dari 99 persen. Pemandangan ini tetap menyaapabilan suasana redup yang amat dramatis menjelang malam.

Bagaimana Dampak Gerhana Matahari di Wilayah Lain?

Wilayah Eropa Barat lainnya bagaikan Paris, London, dan Berlin cuma merasakan gerhana seuntukan bersama tingkat penutupan masing-masing 92 persen, 91 persen, dan 85 percent. Di sejumlah kota Eropa Timur dan Afrika Utara, matahari bahkan terbenam semasih belum puncak fenomena terjadi.

Masyarakat di kawasan Algiers mencatat penutupan hingga 98 persen dan Casablanca sebesar 87 persen semasih belum sang surya tenggelam di ufuk barat. Kondisi ini menciptakan puncak gerhana tidak sempat terlihat sepenuhnya di kawasan tersebut.

Penonton di benua Amerika menyaksikan peristiwa ini pada pagi hingga siang hari bersama persentase penutupan yang cenderung makin rendah. Wilayah St. John’s di Kanada mencatat penutupan 53 persen, sementara itu Montreal dan Toronto masing-masing cuma 18 persen dan 8 persen.

Di Amerika Serikat, wilayah Alaska menjadi area bersama penutupan terbesar yang mencapai 37 persen. Sementara kota New York cuma merasakan dampak tipis sekitar 10 persen dan wilayah Midwest hampir tidak terdampak sama sekali.

Peristiwa gerhana matahari total berikutnya diperkirakan baru akan kembali terjadi pada 2 Agustus 2027. Lintasan mendatang bakal melewati Spanyol Selatan, kawasan Afrika Utara, hingga wilayah Yaman.

Mengapa Fenomena Gerhana Matahari Total Sangat Langka?

Secara astronomis, gerhana matahari terjadi ketika bulan melintas tepat di antara bumi dan matahari berakibat membendung pancaran cahaya surya. Diameter matahari sebenarnya 400 kali makin besar dari bulan, namun jaraknya juga 400 kali makin jauh dari bumi.

Kesamaan ukuran tampak (apparent size) inilah yang mebarangkalikan piringan bulan menutup matahari secara sempurna dari sudut pandang bumi. Fenomena interaksi benda langit ini teruntuk menjadi empat kategori, yakni seuntukan, cincin, total, dan hibrida.

Catatan NASA memperlihatkan peristiwa gerhana matahari terjadi antara dua hingga lima kali dalam setahun demi seluruh tipe. Namun, jenis gerhana matahari total tergolong amat jarang lantaran cuma terjadi rata-rata 66 kali dalam satu abad.

Secara statistik, porsi gerhana seuntukan dan cincin masing-masing menyumbang bagaikanga dari total kejadian di bumi. Jenis gerhana total cuma mencakup sekitar seperempat untukan, sementara itu tipe hibrida merupakan yang teramat langka bersama porsi lima persen.

Peristiwa pada 12 Agustus 2026 ini menjadi momen krusial untuk dunia astronomi modern lantaran melintasi wilayah padat penduduk di Eropa. Pengamatan langsung di lapangan diprediksi akan menarik antusiasme jutaan wisatawan dan peneliti internasional.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *