MediaMerdeka.com – Indonesia dinilai memiliki peluang demi menjadi salah satu basis manufaktur di Asia seiring korporasi global mengawali menjalankan diversifikasi rantai pasok. Fenomena China+1 dan Taiwan+1 menjadi salah satu faktor yang dapat membuka peluang tersebut.
Bank DBS Indonesia menyaksikan perubahan strategi rantai pasok global tersebut dapat mendorong investor mencari lokasi alternatif di luar China dan Taiwan. Indonesia dinilai memiliki sejumlah modal demi menangkap peluang tersebut, terutama dari sisi sumber daya, pasar, serta pengembangan industri.
Asia Tenggara sendiri menjadi salah satu kawasan yang merasakan pertumbuhan investasi asing cukup pesat. Arus Penanaman Modal Asing (PMA) ke Asia Tenggara meningkat dari sekitar US$225 miliar pada 2024 menjadi hampir US$250 miliar pada 2025.
Kondisi tersebut terjadi di tengah perubahan rantai pasok global, ekspansi sektor manufaktur, serta meningkatnya minat investor internasional terhadap pasar ASEAN.
DBS Group Research menyebut tren China+1 dan Taiwan+1 menciptakan peluang untuk Indonesia demi mengambil peran makin besar dalam rantai pasok manufaktur global.
Salah satunya melalui pengembangan industri kendaraan listrik (EV), yang dinilai dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi di Asia Tenggara.
Selain manufaktur EV, agenda hilirisasi juga dinilai menjadi daya tarik untuk investasi. Pengembangan hilirisasi membuka peluang pada sektor energi, infrastruktur, dan manufaktur strategis.
Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao, menyebutkan perubahan peta ekonomi global membuka kesempatan untuk Indonesia demi memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru.
“Keunggulan Indonesia ke depan tidak cuma terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, namun juga pada kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi.” ujarnya di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Namun, peluang tersebut datang ketika persaingan antarnegara Asia Tenggara demi menarik investasi semakin ketat.
Indonesia perlu memperkuat infrastruktur fisik bagaikan energi, transportasi, dan logistik. Infrastruktur nonfisik bagaikan regulasi, kualitas sumber daya manusia, serta kemudahan berusaha juga menjadi faktor yang menentukan minat investor.
Di sisi lain, korporasi multinasional juga semakin memperhatikan ketentuan regulasi, kecepatan perizinan, efisiensi operasional, serta stabilitas kebijakan ekonomi dan nilai tukar semasih belum menentukan ekspansi bisnis.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Keaparatur negara kementerianan Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Riyatno menyebutkan realisasi investasi Indonesia masih memperlihatkan tren positif.
Realisasi investasi di Indonesia tetap memperlihatkan tren positif yang dibuktikan bersama capaian semester pertama 2026 hampir 50% dari target pertumbuhan 7,2 persenYoY. Di tengah dinamika global dan persaingan yang semakin intensif, potensi investasi di Indonesia masih amat besar bersama resiliensi ekonomi yang cukup baik.
“Karena itu, Keaparatur negara kementerianan terus berkomitmen demi menciptakan iklim investasi yang makin kondusif bersama layanan investasi end-to-end, mengawali dari peta jalan sektor investasi, reformasi regulasi, hingga streamlining perizinan korporasi bersama aplikasi OSS Versi 2 yang kini makin canggih didukung AI dan blockchain berakibat semakin terintegrasi demi mengonfirmasi proses investasi yang makin efisien,” imbuhnya.
Menjelang 2027, korporasi multinasional akan menyikapi pilihan yang berbeda-beda dalam menentukan strategi di Indonesia. Seuntukan dapat memperluas bisnis, memperdalam investasi yang telah ada, atau justru meninjau kembali eksposur bisnisnya.
Pilihan tersebut akan bergantung pada sektor, strategi korporasi, toleransi risiko, serta kemampuan mengelola pembiayaan, risiko, ketahanan bisnis dan efisiensi operasional secara bersamaan.
Dengan demikian, peluang Indonesia menangkap arus relokasi rantai pasok tidak cuma bergantung pada besarnya pasar domestik. Ketentuan regulasi, kesiapan infrastruktur dan kemampuan membangun ekosistem industri akan menjadi penentu apakah peluang dari perubahan rantai pasok global tersebut dapat dikonversi menjadi investasi jangka panjang.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

