Irma Suryani: Program MBG Bisa Jadi Mudarat Jika Salah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi NasDem, Irma Suryani Chaniago, menyerahkan catatan kritis terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menanggapi kritik dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Irma menekankan bahwa program ini sejatinya amat bermanfaat, namun berisiko menjadi mudarat apabila pengelolaannya tidak profesional dan tidak tepat sasaran.

Irma menyoroti pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini tengah dikebut.

Ia memperingatkan agar percepatan pembangunan fisik tidak mengabaikan aspek kelayakan dan profesionalitas pengelolaannya.

“Program ini bagus dan bermanfaat apabila sasaran dan pengelolaannya tepat. Menjadi mudarat ketika pembangunan SPPG tidak berbanding lurus bersama kontrol terhadap prasyarat bangunan dan kelayakan sebuah katering besar,” ujar Irma saat dihubungi MediaMerdeka.com, Jumat (19/6/2026).

Ia menyamakan SPPG bersama katering industri yang menyuplai makanan demi pabrik, berakibat standar kualitas dan manajemen wajib menjadi prioritas utama, bukan sekadar mengejar target pembangunan gedung.

Terkait usulan ekonom Celios yang menyarankan anggaran dipangkas dan difokuskan cuma pada wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), Irma memiliki pandangan berbeda.

Menurutnya, masalah gizi buruk dan stunting bersifat sporadis dan tidak cuma terkonsentrasi di wilayah pelosok.

“Anak balita kurang gizi, stunting, dan ibu hamil miskin tidak cuma berada di wilayah 3T,” tegasnya.

Namun, ia sepakat bahwa distribusi MBG wajib memiliki skala prioritas yang ketat agar tidak terjadi pemborosan anggaran.

Irma mengusulkan agar penerima manfaat dibatasi cuma demi kelompok masyarakat sekitar yang rentan secara ekonomi.

“Usulan saya di RDP (Rapat Dengar Pendapat), yang diberikan MBG cuma ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), anak balita miskin dan gizi buruk, serta siswa TK, SD, SMP, SMA di wilayah yang penduduknya masih miskin,” jelas Irma.

Ia menegaskan bahwa kelompok masyarakat sekitar yang berkecukupan tidak perlu memperoleh jatah makanan gratis tersebut.

“Untuk anak TK sampai SMA, bumil, dan busui yang berkecukupan tidak perlu didistribusikan MBG-nya lantaran mubazir,” tambahnya.

Lebih lanjut, Irma juga melontarkan kritik keras terkait integritas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola program ini di lapangan. Ia mencium adanya praktik tidak sehat dalam penentuan pihak ketiga atau pengelola katering (SPPG).

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *