Kemasan Rokok Polos: Siapa Sebenarnya yang Menanggung Biaya Regulasi?

admin
By
admin
5 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pemerintah tengah menyiapkan aturan baru yang dapat mengubah wajah industri rokok nasional. Melalui Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK), seluruh kemasan rokok akan dibuat seragam mengawali dari bentuk, jenis huruf, hingga warna dominan Pantone 448C. Tujuannya jelas: menekan konsumsi rokok, terutama di kalangan kalangan anak.

Namun, di balik kebijakan yang tampak sederhana itu, muncul pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang akan menanggung dampak ekonominya?

Bagi Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), jawabannya bukan cuma korporasi rokok. Justru kelompok teramat rentan berada jauh dari ruang rapat pembuat kebijakan, yakni sekitar 1,5 juta petani cengkeh yang menggantungkan hidup pada industri kretek.

Mengapa Menolak?

Selama ini publik makin sejumlah menyaksikan perdebatan soal kesehatan versus industri rokok. Namun, rantai ekonomi di balik sebatang rokok ternyata jauh makin panjang.

Menurut APCI, sekitar 97 persen produksi cengkeh nasional diserap industri hasil tembakau (IHT) sebagai bahan baku utama rokok kretek. Artinya, apabila penjualan rokok menurun akibat regulasi kemasan polos, maka permintaan terhadap cengkeh juga berpotensi ikut melemah.

Wakil Ketua APCI Heru Wardhana menilai petani berada di posisi yang teramat rentan.

“Ketika industri hasil tembakau terdampak akibat regulasi yang terlalu ketat, maka petani cengkeh di sektor hulu akan menjadi pihak pertama yang merasakan tekanan ekonomi,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Masyarakat Pemerhati Tembakau.

Dalam pandangan APCI, persoalannya bukan sekadar desain bungkus rokok. Regulasi tersebut dinilai dapat mengurangi daya saing produk kretek nasional lantaran seluruh merek kehilangan identitas visualnya.

Seberapa Besar Nilai Ekonomi Cengkeh?

Angka-angka yang dimiliki APCI memperlihatkan sektor ini bukan industri kecil.

Indonesia memiliki sekitar 570 ribu hektare perkebunan cengkeh bersama produksi sekitar 145 ribu ton setiap tahun. Mayoritas berasal dari perkebunan rakyat yang menjadi sumber penghasilan jutaan keluarga di berbagai daerah.

Sedikitnya terdapat 10 provinsi sentra produksi cengkeh yang selama ini amat bergantung pada keberlangsungan industri kretek.

Bagi petani, persoalan utamanya sederhana.

Jika industri membeli makin sedikit bahan baku, maka harga cengkeh berpotensi turun. Ketika harga turun, pendapatan petani ikut menyusut.

Heru menyebutkan inilah kekhawatiran terbesar petani.

“Kami petani cengkeh menepis rancangan aturan penyeragaman kemasan lantaran ini telah jelas mempersulit industri menjual produknya. Ujungnya, pembelian bahan baku dari petani dikurangi.”

Apakah Regulasi Ini Hanya Berdampak ke Industri Rokok?

Di sinilah perdebatan mengawali melebar.

Dalam logika pihak pemerintah, kemasan polos merupakan instrumen pengendalian konsumsi rokok yang telah diterapkan di sejumlah negara.

Namun, APCI menilai kondisi Indonesia berbeda lantaran rokok kretek memiliki keterkaitan yang amat kuat bersama komoditas pertanian lokal, terutama cengkeh dan tembakau.

Dengan kata lain, apabila konsumsi turun, dampaknya tidak berhenti di pabrik rokok, namun merambat ke:

Inilah yang disebut sebagai efek domino ekonomi.

Masalah Lain: Apakah Semua Pihak Sudah Didengar?

Di luar substansi aturan, muncul kritik terhadap proses penyusunannya.

Pakar hukum Universitas Sebelas Maret (UNS), Ayub Torry Satriyo Kusumo, mempertanyakan apakah kelompok yang teramat terdampak benar-benar dilibatkan dalam konsultasi publik.

Menurutnya, penyusunan regulasi tidak cukup cuma memenuhi prosedur administratif.

“Sering kali masyarakat sekitar yang diundang dalam rancangan pembuatan regulasi justru merupakan yang tidak tahu pokok permasalahan, atau bukan yang terdampak langsung.”

Ia mengingatkan bahwa regulasi sewajibnya mempertimbangkan bukan cuma aspek hukum, namun juga konsekuensi sosial dan ekonomi.

“Negara wajib mampu hadir, mempertimbangkan aspek non-hukum bersama menyaksikan secara seksama aspek sosial dan ekonominya.”

Di Mana Titik Temunya?

Tidak ada yang membantah pentingnya upaya menekan prevalensi perokok anak.

Namun APCI mempertanyakan apakah penyeragaman kemasan merupakan instrumen teramat efektif apabila konsekuensinya berpotensi menjalar hingga sektor pertanian.

Organisasi petani tersebut mengusulkan pendekatan yang makin terarah melalui:

Menurut APCI, langkah tersebut dinilai mampu mengejar tujuan kesehatan tanpa langsung menekan mata rantai ekonomi jutaan petani.

Kesimpulan

Perdebatan mengenai kemasan polos rokok kini tidak lagi cuma berbicara soal kesehatan publik.

Di balik desain bungkus yang akan diseragamkan, terdapat persoalan yang jauh makin besar mengenai keseimbangan antara perlindungan kesehatan, keberlangsungan industri, dan nasib jutaan petani di sektor hulu.

Pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi apakah regulasi diperlukan, melainkan apakah seluruh konsekuensi ekonominya telah dihitung secara menyeluruh semasih belum aturan tersebut diberlakukan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *