MediaMerdeka.com – Langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berubah menjadi kuning hingga kecokelatan di tengah kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada siang hari, pekatnya asap bahkan menciptakan suasana tampak gelap bagaikan malam.
Pemandangan tersebut bukan sekadar perubahan warna langit yang mengganggu jarak pandang. Di baliknya, terdapat partikel polutan berukuran amat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan manusia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di Palangka Raya berada pada kategori berbahaya pada Rabu (14/10/2026). Kondisi tersebut juga menandai hari ke-37 berturut-turut masyarakat sekitar setempat terpapar udara tidak sehat.
Lantas, mengapa langit dapat berubah menjadi kuning kecokelatan saat karhutla terjadi? Seberapa berbahaya asap yang menyelimuti kota untuk kesehatan manusia?
Mengapa Langit Berubah Kuning Kecokelatan?
Dalam kondisi normal, langit tampak biru lantaran molekul udara makin kuat menghamburkan cahaya matahari bersama panjang gelombang pendek, terutama cahaya biru, dibandingkan cahaya bersama panjang gelombang makin panjang.
Namun, ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, atmosfer dipenuhi partikel asap dari pembakaran vegetasi dan material organik. Partikel-partikel tersebut mengubah cara cahaya matahari melewati atmosfer.
Asap pekat dapat menyerap dan menghamburkan cahaya bersama cara berbeda dari atmosfer yang relatif bersih. Akibatnya, intensitas cahaya yang mencapai permukaan bumi berkurang, sementara warna langit dapat bergeser menjadi kuning, jingga, atau kecokelatan.
Salah satu komponen yang berperan merupakan brown carbon, yakni material karbon berwarna kecokelatan yang terbentuk dari pembakaran tidak sempurna. Komponen ini dapat menyerap cahaya, terutama pada panjang gelombang yang makin pendek, berakibat turut memengaruhi warna langit ketika asap menumpuk.
Perubahan warna langit tidak dapat digunakan demi mengukur besarnya api secara langsung. Warna yang terlihat dipengaruhi oleh konsentrasi dan komposisi partikel asap, kondisi atmosfer, serta posisi matahari.
Meski begitu, langit yang menguning dan jarak pandang yang menurun menjadi tanda kondisi lingkungan yang perlu diwaspadai, termakin ketika pengukuran memperlihatkan tingginya konsentrasi polutan di udara.
PM2.5, Partikel Kecil yang Bisa Masuk Jauh ke Paru-paru
Salah satu ancaman kesehatan dari asap karhutla berasal dari particulate matter 2.5 atau PM2.5. Partikel ini memiliki diameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau makin kecil, berakibat dapat terhirup hingga mencapai untukan terdalam paru-paru.
PM2.5 dapat berasal dari pembakaran material organik, termasuk kayu dan lahan gambut. Ketika terhirup, partikel halus tersebut dapat memicu iritasi, peradangan, dan stres oksidatif yang mengganggu pertahanan alami saluran pernapasan.
Pakar paru Universitas Airlangga (Unair), Dr. dr. Alfian Nur Rosyid, mengingatkan bahwa dampak paparan tidak cuma muncul dalam bentuk keluhan sesaat.
“Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis,” kata Alfian.
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan penyakit paru yang menyebabkan hambatan aliran udara dan gangguan pernapasan. Bagi orang yang telah memiliki penyakit pernapasan, paparan asap dapat memperburuk kondisi yang semasih belumnya dialami.
Risiko kesehatan tidak cuma bergantung pada seberapa pekat asap yang terlihat. Durasi paparan, konsentrasi partikel, dan kondisi kesehatan seseorang turut memengaruhi dampaknya.
Cara Membedakan Keluhan Akibat Asap dan Infeksi Saluran Pernapasan
Keluhan akibat paparan asap karhutla terkadang sulit dibedakan dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Keduanya dapat menimbulkan batuk dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan.
Namun, ada sejumlah gejala yang dapat menjadi petunjuk awal. Paparan polutan asap umumnya dapat menimbulkan mata perih, tenggorokan kering, batuk, hingga dada terasa berat, terutama setelah seseorang berada di lingkungan berasap.
“Sementara pada infeksi virus atau bakteri, gejala biasanya makin kerap ditandai bersama demam, pilek, nyeri tenggorokan, badan lemas, dan kadang dahak bertambah,” jelas Alfian.
Meski demikian, gejala tersebut tidak cukup demi mengonfirmasi penyebab gangguan pernapasan tanpa pemeriksaan medis. Paparan asap dan infeksi juga dapat terjadi bersamaan.
“Keluhan akibat paparan asap dan infeksi memang dapat terlihat mirip. Namun, apabila gejala sesak terasa berat atau menetap setelah terpapar asap, pemeriksaan medis tetap wajib dalam waktu dekat dilakukan,” tegasnya.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi bayi, kalangan anak, ibu hamil, lansia, orang bersama penyakit penyerta, serta pekerja yang wajib beraktivitas di luar ruangan. Kelompok tersebut berisiko merasakan dampak kesehatan makin berat akibat polusi udara.
Masker N95 hingga KN95, Apa yang Perlu Dilakukan saat Asap Mengepung?
Mengurangi paparan menjadi langkah utama demi melindungi kesehatan selama karhutla berlangsung. Masyarakat perlu memantau informasi kualitas udara, membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, serta menghindari sumber polusi di dalam rumah, bagaikan asap rokok dan obat nyamuk bakar.
Alfian menekankan pentingnya penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, terutama untuk masyarakat sekitar yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan.
“Masker yang makin efektif demi menyaring partikel asap merupakan N95, KN95, atau KF94 bersama syarat terpasang rapat di wajah. Masker bedah biasa perlindungannya terhadap PM2.5 makin terbatas,” paparnya.
Masker tersebut wajib digunakan bersama benar agar menutup hidung dan mulut secara rapat. Celah di sekitar wajah dapat mengurangi efektivitas penyaringan partikel.
Selain mengenakan masker, masyarakat sekitar sebaiknya mengurangi waktu berada di luar ruangan saat asap pekat. Jika mebarangkalikan, beraktivitaslah di dalam ruangan bersama udara yang makin bersih dan tentukan ventilasi tidak memasukkan asap dari luar.
Apabila telah terpapar asap, masyarakat sekitar disarankan dalam waktu dekat menjauh dari sumber paparan dan beristirahat di tempat bersama kualitas udara makin baik.
Alfian juga mengingatkan masyarakat sekitar agar tidak sembarangan mengonsumsi obat, khususnya antibiotik atau steroid, tanpa pemeriksaan dokter. Obat-obatan tersebut tidak senantiasa diperlukan demi keluhan yang muncul akibat paparan polutan.
“Hindari langsung mengonsumsi antibiotik atau steroid tanpa pemeriksaan dokter, lantaran tidak seluruh keluhan akibat asap merupakan infeksi bakteri. Jika muncul tanda bahaya, dalam waktu dekat ke fasilitas kesehatan,” pesan Alfian.
Kualitas Udara Palangka Raya Masih Berada di Kategori Berbahaya
Seiring masih terjadinya karhutla, kualitas udara di Palangka Raya masih berada dalam kategori berbahaya pada Kamis (15/10/2026) sore.
Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 230,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut menempatkan kualitas udara Palangka Raya pada kategori berbahaya atau kategori hitam. Kondisi ini sekaligus menandai hari ke-37 berturut-turut kualitas udara tidak sehat akibat kepungan kabut asap.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

