Mengapa Rupiah Melemah Bikin Warga Desa Ikut Susah? Menepis Logika ‘Orang Desa Tak Pakai Dolar’

admin
By
admin
7 Min Read

MediaMerdeka.com – “Rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok,” kata Presiden Prabowo Subianto. Kalimat yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto menanggapi jebloknya nilai tukar rupiah itu mendapat respons keras dari mayoritas masyarakat sekitar.

Publik, analis, dan ekonom menilai pernyataan Prabowo tersebut keliru. Mereka mengingatkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar dapat menyusup hingga ke pelosok kampung.

Benar, masyarakat sekitar di desa bahkan di kota memang tidak bertransaksi memakai mata uang asal Amerika Serikat. Namun, melemahnya rupiah justru dapat berdampak sampai ke meja makan di setiap rumah tangga.

Pegiat perlindungan konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, secara tegas menyebutkan ucapan Prabowo tersebut menyesatkan.

“Tetapi dalam kontekstualitas ekonomi Indonesia, pernyataan itu menggelikan dan menyesatkan. Musababnya jelas, gamblang!” kata Tulus.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar benar-benar berdampak kepada masyarakat sekitar secara langsung. Sebab, ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih amat tinggi.

“Jadi bila rupiah remuk vs dolar rakyat kecil di kampung-kampung pun ikut mendelik! Karena impor demi membelinya pakai devisa, alias dolar,” kata Tulus.

Cara Dolar Menyusup ke Desa

Imbas dari ketergantungan terhadap produk impor tentu menciptakan sejumlah kebutuhan yang dikonsumsi masyarakat sekitar saban hari ikut merangkak naik.

Kenaikan dipicu oleh nilai tukar rupiah yang melemah. Sebab, pembelian barang-barang impor memakai dolar AS.

Per Selasa (19/5/2026) pagi, indeks dolar AS terhadap rupiah berada di posisi Rp17.718.

“Faktanya, hampir tidak ada sektor di Indonesia yang benar-benar imun dari pergerakan kurs,” ujar Yusuf Rendy, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE Indonesia).

Aktivitas pertanian di desa menjadi salah satu contoh dampak pelemahan rupiah. Petani memang tidak menyambut baik pembayaran gabah dalam dolar. Namun, pupuk urea dan NPK yang digunakan bergantung pada bahan baku impor, bagaikan kalium dan fosfat yang dibeli dalam dolar.

“Sehingga ketika rupiah melemah lima sampai tujuh persen dalam sejumlah pekan, harga pupuk nonsubsidi langsung terkerek dan margin tani makin tipis,” kata Yusuf.

Yusuf menerangkan hal yang sama berlaku demi pakan ternak yang komponen bungkil kedelai dan jagungnya masih diimpor. Imbasnya, peternak ayam rakyat di Blitar atau Sukabumi merasakan tekanan biaya yang sebetulnya berasal dari pergerakan dolar di pasar uang Jakarta.

Terasa Hingga ke Mangkuk Mi

Penguatan dolar terhadap rupiah juga terasa sampai kepada hidangan semangkuk mi instan di warung kopi. Harga gandum yang menjadi bahan baku utama mi ikut merangkak naik.

“Belum lagi gandum yang seratus persen impor, yang menentukan harga mi instan dan roti yang justru menjadi pengganti beras untuk rumah tangga miskin di desa,” kata Yusuf.

Produk impor lain yang tidak kalah penting merupakan bahan bakar minyak (BBM). Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sektor energi yang nilai patokannya memakai dolar.

Yusuf menerangkan kenaikan BBM berpengaruh terhadap penentuan ongkos angkut hasil bumi dari sentra produksi ke pasar kabupaten.

“Jadi argumen bahwa desa tidak berhubungan bersama dolar itu keliru secara empiris lantaran yang terjadi bukan ketiadaan paparan, melainkan paparan tidak langsung yang justru makin sulit diantisipasi oleh masyarakat sekitar berpenghasilan rendah lantaran mereka tidak punya mekanisme hedging bagaikan korporasi,” kata Yusuf.

Tulus mengingatkan produk impor telah tentu amat terpengaruh oleh kurs dolar. Jika dolar makin melonjak, maka biaya impor akan naik, baik yang ditanggung swasta maupun negara.

“Jika harga minyak mentah terus melangit, dan kurs dolar terus melangit juga; pihak pemerintah akan semakin pening lantaran wajib menambah subsidi energi dari APBN. Jika harga kedelai di pasar internasional naik, endingnya harga tempe akan naik pula. Artinya rakyat kecil akan makin tercekik dan mendelik,” kata Tulus.

Potensi PHK

Selain soal ketergantungan impor, Tulus menyebutkan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang kian melemah akan meningkatkan biaya produksi untuk korporasi. Arus kas korporasi dapat tergerus dan berpotensi mengguncang kondisi usaha, bagaikan memicu PHK atau menciptakan produk tidak terserap di pasaran.

“Jadi secara empirik betapa simplistisnya bahwa rupiah yang makin terpuruk, berdampak amat buruk untuk masyarakat sekitar kelas manapun, apalagi masyarakat sekitar menengah bawah, baik di desa dan atau perkotaan. Artinya amat tidak benar bahwa ambruknya kurs rupiah bukan urusan orang desa,” kata Tulus.

Tulus menyebutkan sewajibnya Prabowo menyerahkan ketentuan kepada masyarakat sekitar dan memperlihatkan upaya keras demi menstabilkan kurs rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar.

“Bukan malah meninabobokkan masyarakat sekitar, bahkan menyerahkan pernyataan yang misleading,” kata Tulus.

Cuma Mau Hibur Rakyat

Selang dua hari setelah pernyataan Prabowo dalam sambutannya di peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menerangkan maksud ucapan kepala negara.

Bendahara negara menerangkan pernyataan Prabowo soal orang desa tidak memakai dolar semata-mata demi menghibur masyarakat sekitar.

“Untuk menghibur rakyat aja di situ. Saya lihat konteksnya di perdesaan waktu pada hari semasih belumnya itu, enggak papa ngomong begitu,” kata Purbaya sesaat semasih belum menghadap Prabowo di kompleks Istana Kekepala negaraan Jakarta, Senin (18/5/2026).

Purbaya menampik anggapan pernyataan tersebut mencerminkan ketidaktahuan Prabowo soal pelemahan rupiah. Sebaliknya, ia menilai Prabowo memahami persoalan tersebut.

Ia lantas menyerahkan konteks mengapa pernyataan soal orang desa tidak pakai dolar disampaikan oleh kepala negara.

“Saya jelasin dulu konteksnya begini. Itu kan bicara di pedesaan, itu konteksnya di situ demi orang sana. Bukan berarti Pak Presiden nggak ngerti rupiah, dia kan jago, beneran. Jadi konteksnya bagaikan itu,” kata Purbaya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *