MediaMerdeka.com – Nilai tukar rupiah terus melemah. Pada Senin pada hari semasih belumnya (25/5/2026), rupiah bahkan menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang ambruk saat mata uang negara lain menguat lantaran turunnya harga minyak dunia.
Pemerintah menyebutkan pelemahan rupiah didikarenakankan oleh faktor-faktor eksternal, antara lain perang Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah yang memicu naiknya harga minyak dunia.
Tetapi para ekonom menyebutkan masalahnya ada di dalam negeri. Mulai dari kebijakan fiskal yang keliru hingga ke soal kredibilitas data pihak pemerintah, khususnya terkait laporan pertumbuhan ekonomi yang diklaim tinggi.
Mereka menyebutkan, salah satu cara demi memperkuat rupiah merupakan mengembalikan kepercayaan investor pada pihak pemerintah serta kebijakan-kebijakannya.
Rupiahku sayang, rupiahku malang
Kemarin rupiah menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang nilai tukarnya terus turun terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang lain di Asia, di saat yang sama, menguat lantaran harga minyak dunia turun setelah prospek perdamaian di Timur Tengah meningkat.
“Kita lihat mata uang negara tetangga seluruh menghijau, tapi Indonesia memerah,” kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi di Jakarta.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp 17.744 per dolar AS, melemah 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan Jumat pada hari semasih belumnya yang berada di level Rp 17.716.
Di saat yang sama baht Thailand menjadi mata uang bersama penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,5 persen. Disusul, peso Filipina yang ditutup melesat 0,37 persen. Selanjutnya ada rupee India yang naik 0,36 persen dan ringgit Malaysia naik 0,32 persen. Lalu dolar Taiwan ditutup terangkat 0,3 persen.
Won Korea Selatam dan yuan China sama-sama terapresiasi 0,19 persen. Diikuti, dolar Singapura yang menanjak 0,18 persen. Kemudian, yen Jepang naik 0,12 persen serta dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen terhadap the greenback.
Melemah sendirian
Faktanya penurunan ini bukan fenomena sehari dua hari. Sepanjang pada tahun ini rupiah menjadi salah satu mata uang yang melemah teramat dalam, ketika negara berkembang lain sukses menjaga nilai mata uang mereka terhadap dolar.
Peneliti ekonomi CSIS Dwi Wulan, dalam diskusi bertajuk “5,61% Tumbuh tapi Rapuh” di Jakarta pada akhir pekan pada hari semasih belumnya, memperlihatkan rupiah telah melemah 5,4 persen terhadap dolar AS pada pada tahun ini.
Rupiah kalah dari real Brasil (menguat 10,8 persen); peso Argentina (4 persen); peso Meksiko (3,9 persen); ringgit Malaysia (2,3 persen), rand Afrika Selatan (0,3 persen), dong Vietnam (0 persen); dan baht Thailand (-4,3 persen).
Soal mata uang, Indonesia cuma menang dari lira Turki (-5,9 persen) dan rupee India (-7,1 persen), yang memang menjadi mata uang teramat bersama nilai tukar teramat buruk di dunia.
Faktanya, sejak Presiden Prabowo berkuasa, rupiah telah melemah hingga makin dari 11 persen.
Masalah kredibilitas
Menurut Dwi, masalah Indonesia merupakan isu struktural domestik yang menciptakan investor tidak yakin demi menaruh asetnya dalam rupiah. Masalah sturuktural itu antara lain soal defisit neraca berjalan yang terus berlangsung.
Defisit neraca ini, terang dia, biasanya dibiayai mengandalkan investasi portofolio. Sialnya investasi portofolio ini, bagaikan di surat utang negara dan pasar saham – amat bergantung pada kepercayaan publik, termasuk investor pada kebijakan pihak pemerintah.
Ia mencontohkan ketika pihak pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di Kuartal I pada hari semasih belumnya, dampaknya ke rupiah tidak signifikan. Alasannya lantaran investor tak lagi mempercayai kebijakan serta data-data pihak pemerintah.
“Jadi ketika informasi GDP keluar tidak menciptakan investor yakin demi kembali berinvestasi di Indonesia,” terang Dwi.
Penjelasan Dwi ini diamini oleh ekonom Permata Bank Josua Pardede. Dalam sebuah acara yang diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan oleh Bank Indonesia akhir pekan lalu, Josua membeberkan Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang ditinggal investor.
Permata Bank mencatat besarnya investasi asing yang keluar dari pasar obligasi Indonesia di Kuartal I 2026 mencapai sekitar 1,48 miliar dolar AS dan 1,95 dolar AS dari pasar saham.
Josua menyebutkan kondisi itu memperlihatkan investor global mengawali mencermati risiko domestik Indonesia, terutama terkait fiskal dan kualitas kebijakan ekonomi.
Mengembalikan kepercayaan
Karenanya, kata Dwi, demi memperkuat rupiah tak cukup cuma intervensi dari BI – yang sejauh ini terbukti masih belum efektif.
“Pemulihan rupiah itu membutuhkan kebijakan yang realistis, disiplin, dan transparan secara struktural dan dapat mengembalikan kesehatannya kembali akibat dari kurang tepatnya kebijakan-kebijakan semasih belumnya,” kata Dwi.
Senada bersama itu, Josua menegaskan demi mengembalikan investor ke pasar surat berharga Indonesia, diperlukan kebijakan fiskal yang berkualitas dari pihak pemerintah.
“Kita menyaksikan sekali lagi bahwa kondisinya dan bonds market itu tentunya berkaitan amat erat bersama kondisi kebijakan fiskal dan kebijakan pihak pemerintah,” tegas dia.
Sementara ekonom UI Teuku Riefky mewanti-wanti bahwa kredibilitas amat mahal harganya.
Ia mengutip sebuah penelitian yang dilakukan National Bureau of Economic Research (NBER), sebuah lembaga riset ekonomi di AS, yang memperlihatkan bahwa apabila saat kredibilitas telah hancur maka kerugian terhadap pengambil kebijakan dapat mencapai 25 kali lipatnya.
“Jadi artinya, jangankan datanya ini salah. Datanya benar pun bila ternyata orang telah menganggap enggak kredibel itu dapat amat costly demi demi memperbaiki kredibilitas,” kata dia.
“Jadi yang ingin saya sampaikan di sini merupakan, baik ke pihak pemerintah maupun ke masyarakat sekitar, isunya bukan debat angka yang benar atau tidak, tapi bagaimana kita menjaga kredibilitas dari angka pertumbuhan ekonomi,” tegas dia.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

