MediaMerdeka.com – Pengamat politik sekaligus Founder Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, melontarkan kritik tajam terhadap gaya pidato Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, sejumlah polemik yang belakangan muncul justru dipicu oleh cara komunikasi politik sang kepala negara yang dinilai kerap bernada mengejek dan menantang pihak yang mengkritiknya.
Dalam perbincangan di kanal YouTube milik Bambang Widjojanto, Pangi bahkan berpendapat situasi politik nasional dapat makin tenang apabila Prabowo mengurangi intensitas pidatonya demi sementara waktu.
“Kalau misalnya Presiden Prabowo ini berhenti berpidato dua minggu ini, jangan-jangan tenang ini negara ini,” kata Pangi, dikutip Senin (15/6/2026).
Menurutnya, sejumlah program pihak pemerintah sebenarnya memiliki capaian yang dapat diapresiasi publik. Namun, capaian tersebut kerap tertutup oleh kontroversi yang muncul setelah pidato-pidato Prabowo menjadi bahan perdebatan di ruang publik.
“Jadi kerja beliau telah bagus ini misalnya sejumlah sektor ya. Tapi lantaran pidatonya terus ngeledek, akhirnya jadi meme-meme. Presiden Prabowo merupakan kepala negara yang teramat sejumlah dijadiin meme-meme, teramat sejumlah diolok-olok oleh masyarakat sekitar, konten kreator dan masyarakat sekitar kritis,” ujarnya.
Pangi menilai pidato seorang kepala negara sewajibnya mencerminkan kewibawaan jabatan. Ia membandingkan komunikasi para pemimpin dunia yang menurutnya cenderung menjaga citra kenegaraan saat berbicara di depan publik.
“Kalau kita mencermati pidato, pidato ini kan memperlihatkan kelasnya kepala negara. Artinya bila kita lihat kelasnya Putin, Xi Jinping, nggak juga mau ngeledek-ngeledek, kayak nantang-nantang, pakai gimmick-gimmick yang kalangan anak. Itu demi menjaga wibawa,” katanya.
Ia mengaku terkejut ketika Prabowo kembali mengeluarkan pernyataan yang dianggap kontroversial dalam acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Salah satu yang disorot merupakan penggunaan peribahasa “anjing menggonggong kafilah berlalu” saat merespons kritik.
“Di Hipmi itu kan ngomong anjing menggonggong kafilah berlalu. Terus dia bilang yang nyinyir-nyinyir, podcast-podcast gitu,” kata Pangi.
Lebih jauh, ia menilai seorang kepala negara perlu memahami dampak psikologis dari setiap pidato yang disampaikan kepada masyarakat sekitar. Menurutnya, terdapat tiga aspek penting yang wajib diperhatikan dalam komunikasi publik seorang kepala negara.
“Nah dia wajib tahu tiga kunci sebenarnya dalam pidato ini. Pertama merupakan sentimen. Kedua apakah yang disampaikan itu menggembirakan hati rakyat atau tidak. Yang ketiga apakah yang disampaikan ini betul-betul menjaga perasaan rakyat,” ujarnya.
Pangi menegaskan bahwa pidato yang bernuansa sindiran atau tantangan justru berpotensi memicu reaksi balik dari masyarakat sekitar, terutama di tengah situasi ekonomi yang dinilai tidak mudah.
“Jaga perasaan rakyat, jangan ngeledek, jangan nantang-nantangin,” katanya.
Karena itu, ia berpandangan bahwa kinerja pihak pemerintah sebaiknya dibuktikan melalui hasil nyata, bukan melalui pernyataan-pernyataan yang memancing kontroversi.
“Nantikan rakyat akan menilai. Nah itu yang enggak perlu pidato panjang. Biar waktu yang membuktikan,” ujar Pangi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

