Perang di Gaza, Warga Palestina Gunakan Toilet Darurat Zaman Purba

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Krisis sanitasi ekstrem kini mencengkeram pengungsi Palestina di Gaza akibat blokade total pasokan barang. Warga terpaksa merakit toilet darurat sendiri dari kursi plastik bekas berlubang demi mempertahankan ‘harga diri’ di tengah gempuran perang.

Kelangkaan barang menciptakan harga kloset bekas meroket drastis mencapai 1.500 hingga 2.000 shekel atau sekitar 503 hingga 671 dolar AS. Minimnya fasilitas buang air bersih ini memaksa puluhan jiwa beruntuk satu toilet darurat tanpa privasi.

Ketimpangan parah antara pasokan dan kebutuhan masyarakat sekitar menciptakan kondisi lingkungan yang amat membahayakan kesehatan publik. Sumur resapan manual buatan masyarakat sekitar kerap meluap dan mencemari pemukiman tenda yang serba terbatas.

Eman Mahmoud Shamia, seorang ibu berusia 33 tahun yang kini tinggal di tenda pengungsian, membeberkan keputusasaannya menyikapi fasilitas jamban darurat tersebut.

“Saya dicabut dari hak teramat dasar saya demi memiliki dudukan toilet yang layak di tenda saya. Ini amat melelahkan untuk saya sebagai seorang wanita dan ibu dari lima anak, sementara suami saya sakit dan tidak mampu memakai toilet rakitan ini. Apa yang terjadi pada kami merupakan sebuah kegilaan,” ujar Shamia kepada Al Jazeera.

Shamia mengimbuhkan betapa ia sulit menyambut baik kenyataan hidup yang wajib dijalaninya pada saat ini.

“Saya tidak percaya ini merupakan situasi kami. Terkadang saya merasa bagaikan menjadi gila. Bagaimana barangkali toilet dapat menjadi bagaikan ini dan bagaimana pintu cuma berupa selembar kain?” kata Shamia.

Gencatan akses pasokan material bangunan dan alat sanitasi dari luar menjadi pemicu utama meroketnya harga jamban bekas. Hambatan perdagangan menciptakan toilet bekas berubah menjadi komoditas langka yang dimonopoli pihak tertentu.

Mohammad Al-Hanouti, masyarakat sekitar berusia 30 tahun dari kamp pengungsi Al-Bureij, menyuarakan kesulitan finansialnya demi memenuhi kebutuhan dasar tersebut.

“Saya akan hidup tanpa ubin, tanpa dapur, dan tanpa toilet yang layak… Saya telah menabung demi membeli dudukan toilet lantaran itu merupakan hal yang teramat penting di apartemen. Jujur saja, saya dalam masalah – memperoleh kebutuhan teramat dasar akan menghabiskan biaya sekitar $2.000,” kata Al-Hanouti kepada Al Jazeera.

Al-Hanouti menilai situasi sulit ini tidak cuma dialami oleh dirinya sendiri, namun juga oleh mayoritas masyarakat sekitar Gaza.

“Krisis dudukan toilet ini perlu dalam waktu dekat ditangani. Saya bukan satu-satunya yang menderita akibat hal ini; saya memiliki teman-teman di tenda yang juga sedang berjuang,” tuturnya.

Ia mendesak lembaga internasional agar dalam waktu dekat mendistribusikan alat sanitasi secara cuma-cuma demi menjamin hak hidup masyarakat sekitar. Akses sanitasi yang higienis merupakan hak teramat mendasar untuk setiap manusia tanpa terkecuali.

Pakar ekonomi Omar Salouha menerangkan bahwa krisis jamban ini tercipta akibat guncangan pasokan mendadak yang dipicu pembatasan impor material pembuangan. Kerusakan makin dari 90 persen pemukiman Gaza semakin melonjakkan permintaan alat sanitasi secara mendadak.

“Ketidakseimbangan yang amat besar antara penawaran dan permintaan telah menyebabkan harga toilet bekas naik sejumlah kali lipat dan menciptakan pasar yang merasakan kelangkaan serta distorsi,” kata Salouha.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *