Seloroh Prabowo Puji Kecerdasan Bahlil: kalau Dicari di Google Kampusnya Gak Ada

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Presiden RI Prabowo Subianto menyerahkan pandangan mendalam mengenai makna kecerdasan dan kualitas kepemimpinan saat menghadiri peluncuran serta bedah buku karya Bahlil Lahadalia berjudul “10 Karya Nyata demi Negeri: Setengah Abad” di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa kecerdasan seseorang tidak dapat cuma diukur dari mentereng atau tidaknya nama institusi pendidikan tempatnya belajar.

Prabowo mengawali ceritanya bersama mengulas pengalamannya selama puluhan tahun sebagai pemimpin militer yang terbiasa menilai karakter manusia dalam waktu singkat.

Meski mengaku masih belum lama mengenal Bahlil, Prabowo menyebut insting kepemimpinannya mampu menangkap potensi besar dalam diri Bahlil Lahadalia melalui interaksi yang singkat.

“Jadi saudara-saudara, saya tidak lama kenal Pak Bahlil. Tidak bagaikan Pak Rosan 20 tahun, saya tidak. Tapi terkadang pertemuan dua-tiga kali saja untuk saya, lantaran saya memang lama berurusan bersama masalah manusia,” ujar Prabowo.

“Seorang pemimpin tentara itu kerap berurusan bersama manusia. Dari muda kita telah berhadapan bersama 30 orang pertama kali itu,” katanya menamabahkan.

Mantan Danjen Kopassus itu menerangkan bahwa penilaian terhadap seseorang dapat dilakukan melalui intuisi atau “getaran” yang dirasakan saat berkomunikasi.

“Bahkan di akademi kita telah berurusan bersama orang. Kita telah dapat lihat, kita dapat menangkap apakah itu dikatakan getaran, apakah itu dikatakan insting, barangkali bahasa Inggrisnya vibes atau chemistry. Dan kita dapat menilai dari dua-tiga kalimat, dari pembicaraan, dari tanggapan,” lanjutnya.

Poin utama yang ditekankan Prabowo dalam acara tersebut merupakan mengenai sumber kecerdasan.

Ia secara blak-blakan menyebut Bahlil sebagai bukti nyata bahwa kecerdasan tidak lahir dari sekadar duduk di bangku sekolah atau kampus ternama.

Bahkan, Prabowo melontarkan seloroh mengenai latar belakang pendidikan Bahlil yang dianggapnya tidak populer.

“Jadi saudara-saudara, tadi keberanian, kecerdasan. Dan kecerdasan itu bukan dari sekolah menurut saya. Kecerdasan bukan dari sekolah,” seloroh Prabowo disambut tawa hadirin.

“Dan ini telah kita buktikan berkali-kali. Hari ini kini kita buktikan lagi, Pak Bahlil. Saya kira sekolahnya gak terlalu terkenal Pak Bahlil. Kalau dicari di Google kampusnya telah nggak ada,” lanjut dia.

Ia menegaskan kembali bahwa gengsi sebuah almamater bukanlah jaminan kualitas intelektual seseorang.

“Ya, jadi itu telah kita buktikan di mana-mana. Tidak menjamin sekolahnya di mana,” tegasnya.

Alih-alih menyandarkan kecerdasan pada institusi formal, Presiden Prabowo justru meyakini bahwa kecerdasan dan kesuksesan yang dimiliki Bahlil pada saat ini berakar dari didikan orang tua dan nilai-nilai spiritual.

“Kecerdasan itu barangkali didapat dari jelas, dari orang tua. Jadi memang bagaimanapun ya ajaran agama kita ya, bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Saya kira itu benar. Mungkin Pak Bahlil itu menjadi bagaikan kini lantaran pengorbanan Ibu. Dengan susah payah bagaimana memberi makan, mengurus anak ini,” katanya.

“Jadi kecerdasan itu menurut saya juga lantaran ditempa, ditempa oleh kesulitan. Jadi kesulitan… nah ini kini yang kita wajib prihatin. Apakah generasi-generasi penerus kita kini ini nanti kuat menyikapi persaingan antara bangsa yang semakin keras? Atau mudah menyerah, mudah mengeluh, mudah minta bantuan?,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *