MediaMerdeka.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp17.600 per dolar AS, mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah. Sejarah juga terus dicatat di era Prabowo jadi kepala negara, Rupiah seakan terus cetak rekor melempem.
Fluktuasi tajam ini memicu perdebatan hangat di ruang publik mengenai seberapa dalam dampak guncangan makroekonomi ini akan merembet ke lapisan masyarakat sekitar teramat bawah, khususnya di kawasan pedesaan.
Terkait hal, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan yang berusaha meredam sentimen negatif. Saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Presiden menepis anggapan bahwa perekonomian Indonesia berada di ambang keterpurukan besar.
“Saya yakin kini ada yang senantiasa sebentar-sebentar “Indonesia akan collapse, akan chaos”… Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai upaya psikologis demi menjaga stabilitas sosial agar tidak berubah menjadi kepanikan massal. Narasi normatif ini lalu diperkuat oleh Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun. Menurutnya, pesan Presiden wajib dilihat dari kacamata manajemen krisis demi menenangkan tensi publik di tengah keperkasaan mata uang greenback.
Misbakhun berpendapat bahwa dampak langsung dari apresiasi dolar AS sebenarnya cenderung terlokalisasi pada kelompok masyarakat sekitar tertentu yang bersentuhan langsung bersama pasar internasional maupun aktivitas konsumsi barang luar negeri.
“Yang terpengaruh merupakan transaksi-transaksi yang memakai impor, orang-orang kaya yang bepergian ke luar negeri,” kata Misbakhun kepada wartawan, Minggu (17/5/2026).
Meskipun demikian, politisi tersebut tidak memungkiri bahwa sektor produksi dalam negeri memiliki kerentanan struktural yang wajib diwaspadai apabila pelemahan mata uang ini terus berlanjut tanpa intervensi berarti.
“Masyarakat yang memakai dolar dalam transaksi itu apa? Yang selama ini bahan bakunya impor. Dan salah satu yang impor yang kita khawatirkan merupakan impor dari komoditas-komoditas yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Bayang-Bayang Psikologis 1998 versus Realitas Baru
Secara historis, angka psikologis di atas Rp17.000 memicu alarm tersendiri untuk memori kolektif bangsa. Level ini mengingatkan publik pada fase krusial menjelang krisis moneter 1998.
Namun, Misbakhun menegaskan bahwa menyamakan situasi fundamental pada hari ini bersama kondisi 28 tahun lalu merupakan sebuah kekeliruan analitis. Struktur ketahanan perbankan dan cadangan devisa pada saat ini dinilai jauh makin kokoh.
Walaupun pondasi makro dinilai solid, Komisi XI tetap mendesak Bank Indonesia (BI) demi bertindak taktis dan agresif di pasar valuta asing. Jeda pelemahan yang terlalu lama dikhawatirkan dapat menggerus tingkat kepercayaan (trust) publik terhadap kapasitas bank sentral dalam menjaga mandat stabilitas nilai tukar nasional.
Bukti ‘Dolar’ Dipakai oleh Warga Desa
Meskipun retorika politik menyebutkan masyarakat sekitar pedesaan tidak berinteraksi langsung bersama mata uang dolar AS, data sektoral memperlihatkan realitas yang bertolak belakang.
Jalur transmisi pelemahan kurs tidak melulu lewat transaksi valas di CBD jakarta, melainkan menyelinap lewat piring makan masyarakat sekitar di pelosok desa melalui komoditas pangan pokok yang bergantung pada pasokan global.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Keaparatur negara kementerianan Pertanian sepanjang tahun 2025, berikut merupakan rincian ketergantungan impor komoditas yang dikonsumsi secara masif di pedesaan:
1. Kedelai (Bahan Baku Tahu dan Tempe)
Tahu dan tempe merupakan sumber protein utama yang amat merakyat di pedesaan. Faktanya, makin dari 70% kebutuhan kedelai nasional wajib dipasok dari luar negeri. Sepanjang tahun 2025, BPS mencatat total volume impor kedelai Indonesia mencapai 2,56 juta ton.
Sekitar 90% atau 2,21 juta ton di antaranya didatangkan langsung dari Amerika Serikat, bersama sisanya berasal dari Brasil, Argentina, dan Kanada. Nilai total impor ini mencapai US$1,29 miliar (sekitar Rp20,2 triliun). Dengan posisi rupiah yang melemah ke Rp17.600, biaya pengadaan bahan baku ini ditentukan membengkak dan menekan para pengrajin tahu-tempe di tingkat desa.
2. Gandum (Bahan Baku Mi Instan dan Roti)
Mi instan telah menjadi untukan dari pola konsumsi harian masyarakat sekitar desa. Karena faktor iklim tropis, Indonesia memiliki ketergantungan 100% pada impor gandum. Data BPS tahun 2025 memperlihatkan volume impor gandum dan meslin nasional menembus angka 11,76 juta ton.
Pada Januari 2025 saja, impor tercatat sebesar 728.020 ton bersama nilai US$208,4 juta demi menyokong kebutuhan industri pangan.
Sementara pada periode Januari hingga Juni 2025, volumenya mencapai 5,14 juta ton bersama pemasok utama dari Australia, Kanada, Argentina, serta peningkatan volume dari Amerika Serikat.
3. Gula Konsumsi
Meskipun industri tebu rakyat tersebar di berbagai daerah pedesaan, produksi Gula Kristal Putih (GKP) domestik yang berada di angka 2,67 juta ton masih belum mampu menutupi tingginya konsumsi rumah tangga dan industri makanan lokal.
Akibatnya, Indonesia mengimpor 3,93 juta ton gula sepanjang tahun 2025, di mana seuntukan besar pasokan dikirim dari Brasil memakai denominasi dolar AS.
4. Bawang Putih
Sebagai bumbu dapur esensial di setiap masakan rumah tangga desa, komoditas bawang putih hampir seluruhnya dipenuhi oleh pasar internasional. Data BPS memperlihatkan nilai impor bawang putih pada periode Januari hingga April 2025 menembus US$114,8 juta bersama volume 82.600 ton.
Pada momen puncak bagaikan Ramadan (Maret 2025), impor menyentuh US$52,1 juta (36.800 ton), dan akumulasi hingga Juni 2025 mencapai 163.082 ton atau baru memenuhi 35,74% dari total alokasi tahunan.
5. Daging Sapi dan Kerbau
Untuk memenuhi lonjakan konsumsi pada hari besar keagamaan maupun hajatan masyarakat sekitar desa, pasokan daging lokal yang terbatas terpaksa ditopang oleh kebijakan impor. Volume impor daging beku (sapi dan kerbau) berkisar antara 230.000 hingga 270.000 ton per tahun.
Pemerintah juga mendatangkan sekitar 534.000 ekor sapi bakalan demi proses penggemukan domestik. Nilai transaksi impor ini berkisar antara US$100 juta hingga US$110 juta per bulan pada masa beban puncak permintaan.
Ketergantungan struktural ini tidak berhenti pada produk jadi pangan. Dari sisi hulu pertanian, para petani di pedesaan juga amat terekspos pada pergerakan dolar AS mengingat komponen aktif demi pembuatan pupuk kimia subsidi/non-subsidi, pestisida, serta bahan baku pakan ternak pabrikan seuntukan besar masih wajib diimpor dari pasar global.
Ketika rupiah terdepresiasi, biaya produksi di tingkat petani otomatis merangkak naik, memicu efek domino berupa kenaikan harga jual di pasar tradisional yang pada akhirnya membebani daya beli masyarakat sekitar luas.
Namun demikian, depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak cuma menyerahkan dampak negatif. Saat dikonversi ke dalam mata uang rupiah, pendapatan berbasis valuta asing otomatis bernilai makin tinggi, sekaligus menciptakan biaya jasa dan produk lokal menjadi jauh makin murah untuk pasar internasional.
Berikut merupakan empat klaster ekonomi yang mendapat dampak positif dari pelemahan kurs rupiah:
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

