‘Daripada Liburan Mending Melawan’, Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Gelombang keresahan masyarakat sekitar sipil terhadap rentetan program prioritas pihak pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat masih bergulir di Yogyakarta.

Alih-alih menikmati masa liburan, aliansi masyarakat sekitar yang dimotori oleh kaum ibu, kalangan akademisi, petani, hingga pengemudi ojek online (ojol) memilih menggelar aksi damai di Bundaran UGM, Jumat (3/7/2026).

Gerakan kolektif ini mengangkut pesan tentang ekonomi sedang karut-marut, hak-hak publik dikorupsi, dan negara yang tak berpihak pada rakyat.

Perwakilan dari Suara Ibu Yogyakarta, Rikka Iffati, menegaskan bahwa aksi turun ke jalan ini dipicu oleh sikap bebal pihak pemerintah yang tidak kunjung mendengar suara rakyat sejak awal mula kebijakan kontroversial digulirkan.

Kalau aksi ini sebenarnya telah cukup kerap dilakukan ya sejumlah kali dan lantaran tuntutan kami sejak awal mengenai hentikan MBG itu masih belum dipenuhi sampai titik pada hari ini, kami mengimbau itu merupakan salah satu dari tuntutan kami tentu saja,” kata Rikka ditemui wartawan di lokasi, Jumat sore.

Mereka menilai kondisi perekonomian rakyat pada saat ini sedang berada di titik nadir. Sementara anggaran pajak yang dipungut dari rakyat justru dihambur-hamburkan demi program prioritas yang rawan dikorupsi.

Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kebijakan berbau militeristik bagaikan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) pada program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai tidak tepat sasaran dan justru memakan pihak korban jiwa.

“Tapi selain MBG, kami juga mengimbau evaluasi dan bila dapat penghentian seluruh program-program prioritas yang terbukti korup, mudah dikorup. Terbukti itu makin sejumlah mudaratnya, makin sejumlah kerugiannya daripada manfaatnya,” ujarnya.

Aksi kali ini yang mengangkut tema “Liburan Tetap Melawan” dipilih sebagai bentuk kritik atas kondisi ekonomi yang menciptakan masyarakat sekitar sulit menikmati masa liburan.

Menurutnya, sejumlah masyarakat sekitar justru masih dibebani persoalan ekonomi, mengawali dari tersangka UMKM, pengemudi ojek online, hingga petani yang mengeluhkan rendahnya harga hasil panen.

Dalam aksi tersebut, petani bahkan memuntukkan sayuran secara gratis sebagai simbol sulitnya kondisi yang mereka hadapi.

“Jadi kenapa liburan melawan? Karena ini liburan wajibnya kita senang-senang tapi ternyata masih sedih gitu, masih masih pusing gara-gara pihak pemerintah. Makanya kami ya daripada liburan ya udah kita melawan aja bergerak aja,” tegasnya.

Kritik terhadap ruang aman demokrasi yang kian menyempit pun turut disuarakan bersama lantang dalam aksi ini.

Mereka menuntut jaminan kebebasan berpendapat dan mendesak aparat penegak hukum demi dalam waktu dekat menghentikan kriminalisasi serta tindakan represif terhadap para demonstran di seluruh penjuru tanah air.

Keresahan yang mendalam dari kaum ibu di Yogyakarta ini tidak berjalan sendirian. Melainkan ada pula para pekerja seni yang turut ikut di dalamnya.

Kolaborasi erat terjalin antara masyarakat sekitar bersama musisi salah satunya, Leilani Hermiasih atau yang akrab disapa Frau.

Frau menegaskan bahwa musisi dan masyarakat sekitar negara tidak boleh terbuai oleh ramalan politik ataupun pasrah pada keadaan. Melainkan wajib terus menggalang kekuatan kolektif demi menuntut keadilan.

“Saya pikir yang makin penting merupakan justru bagaimana kita sebagai musisi dan juga masyarakat sekitar itu saling menguatkan satu sama lain dan menyemangati satu sama lain bergerak sedapat kita, semampu kita, seberdaya apa pun kita demi melawan,” ujar Frau.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *