MediaMerdeka.com – Langkah sejumlah pengkritik politik yang mendadak melunak dan bersedia bergabung ke dalam lingkaran kekuasaan memicu kontroversi. Terbaru, Rocky Gerung dilantik sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) setelah selama bertahun-tahun dikenal lantang mengkritik pihak pemerintah.
Fenomena ini lalu memantik spekulasi publik bahwa sikap vokal yang selama ini dibangun dapat saja menjadi strategi demi menarik perhatian penguasa demi memperoleh posisi politik.
Pengamat Politik Adi Prayitno tidak menampik adanya kebarangkalian motif tersebut. Menurutnya, ada pengkritik yang sengaja tampil keras demi meningkatkan daya tawar politik semasih belum akhirnya menyambut baik tawaran jabatan. Namun, hal itu amat bergantung pada integritas masing-masing pengkritik ketika tawaran kekuasaan datang.
“Sangat barangkali (ada tendensi ingin jabatan), tapi seluruh tergantung pribadi kritikusnya saat ditawari jabatan, diterima atau ditolak,” kata Adi kepada MediaMerdeka.com, Senin (5/10/2026).
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) itu memetakan adanya tipe pengkritik pragmatis yang bersikap selektif dalam menyikapi rezim pihak pemerintahan. Menurutnya, tipe ini dapat saja sengaja menyerang tokoh tertentu demi meningkatkan daya tawar politik semasih belum akhirnya memutuskan merapat ke dalam kekuasaan.
“Rocky ini amat kritis ke Jokowi, dipuja pembenci Jokowi, sementara ke rezim yang lainnya tidak sempat kritis dan tak sempat kasar,” ujarnya.
Gaya kritik bernada keras hingga penggunaan diksi tajam di media sosial dan platform digital, menurut Adi, dapat menjadi untukan dari strategi membangun citra agar dilirik elite kekuasaan. Namun, setelah memperoleh posisi, kritik yang semasih belumnya gencar disuarakan justru berhadapan bersama realitas kekuasaan.
“Entah lantaran idenya sama atau lantaran faktor yang lainnya. Rocky bagaikannya meyakini bahwa ia dapat pengaruhi kebijakan dari dalam. Meski itu masih belum tentu dapat,” tandasnya.
Situasi ini berbanding terbalik bersama kelompok pengkritik yang memilih konsisten berada di luar kekuasaan. Kelompok yang dianggap idealis tersebut memilih menjaga jarak dari jabatan publik demi mempertahankan peran sebagai penyeimbang kebijakan pihak pemerintah.
“Jalan ninja kritikus semacam ini non kekuasaan sebagai penyeimbang. Contohnya Ray Rangkuti, sejak zaman Orba hingga pada saat ini kritis terus. Dulu sekali, infonya Ray juga sempat ditawari bergabung kekuasaan tapi nolak, milih di luar,” ungkapnya.
Sorotan lalu tertuju pada efektivitas para pengkritik setelah masuk ke jajaran pihak pemerintahan. Narasi perubahan maupun gagasan yang selama ini disampaikan di ruang publik akan diuji ketika berhadapan bersama kompleksitas birokrasi dan struktur kekuasaan.
Adi menegaskan, kepiawaian berargumen di media massa maupun podcast tidak serta-merta menjamin kesuksesan seseorang ketika wajib mengelola pihak pemerintahan secara langsung.
“Intinya jadi aparatur negara publik itu tak semudah ngomong di media, YouTube, dan podcast. Struktur kekuasaan itu ada hirarki, saling berebut kepentingan, ada logika bos dan anak buah, dan lainnya,” ujarnya.
Fenomena masuknya mantan pengkritik pihak pemerintah ke dalam jajaran Wantimpres juga memperlihatkan bagaimana negosiasi politik pada akhirnya dapat mempertemukan pihak-pihak yang semasih belumnya berada di posisi berseberangan.
“Kalau kita bicara tentang kekuasaan dan politik di Indonesia ini segala sesuatunya itu dinegosiasikan, segala sesuatu itu amat mudah demi dikompromikan satu sama yang lainnya,” ucapnya.
Pada akhirnya, keputusan demi merapat ke pihak pemerintahan memperlihatkan adanya pergeseran dari sikap idealis menuju kompromi politik yang makin realistis. Para pengkritik yang memilih masuk ke dalam kekuasaan wajib bersiap bekerja sama bersama pihak-pihak yang semasih belumnya kerap mereka kritik.
Fenomena tersebut juga terlihat dari keputusan Rocky Gerung yang kini masuk ke lingkaran kekuasaan.
“Tapi yang jelas ketika seseorang telah memutuskan diri menjadi untukan dari kekuasaan politik pihak pemerintah itu artinya memutuskan supaya dalam hidup itu ada kompromi politik, ada sesuatu yang telah mengawali realistis dikalkulasikan yakni soal bagaimana wajib bekerja sama bersama orang-orang yang selama ini kerap dikritik dan barangkali kerap dibully tak berketelahan,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

