Mengapa Asap Kebakaran Permukiman Bisa Berbahaya bagi Kesehatan Meski Api Sudah Padam?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Kebakaran masih menjadi ancaman serius di kawasan permukiman Indonesia. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri per 22 Mei 2026 memperlihatkan, kawasan permukiman menjadi lokasi kebakaran teramat dominan bersama persentase mencapai 20,64 persen.

Namun, dampak kebakaran ternyata tidak berhenti pada kerusakan bangunan dan asap yang terlihat di udara. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Hazardous Materials mengungkap bahwa asap kebakaran di wilayah perkotaan mengandung campuran zat kimia berbahaya yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Penelitian yang dilakukan di Los Angeles pada 2025 menemukan bahwa partikel udara hasil kebakaran mengandung logam beracun, Volatile Organic Compounds (VOC) atau senyawa organik yang mudah menguap, hingga PFAS atau forever chemicals yang sulit terurai di lingkungan.

Asisten Profesor dari Rutgers School of Public Health, José Guillermo Cedeño Laurent, menerangkan bahwa kebakaran di kawasan permukiman tidak cuma membakar vegetasi. Berbagai material buatan manusia bagaikan kendaraan, plastik, baterai, kabel listrik, hingga peralatan rumah tangga juga ikut terbakar dan melepaskan senyawa berbahaya ke udara.

“Ketika kawasan permukiman terbakar, yang terbakar bukan cuma pohon atau tanaman, namun juga berbagai material sintetis yang menghasilkan polutan kompleks,” ujarnya.

Menurut José, asap kebakaran mengangkut partikel ultrahalus yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan manusia. Risiko kesehatan tetap dapat muncul meskipun tingkat polusi udara terukur masih berada di bawah ambang batas standar.

Bahaya Tidak Berakhir Saat Api Padam

Meski temuan tersebut menyerahkan gambaran baru mengenai risiko kebakaran perkotaan, para peneliti menilai masih diperlukan studi lanjutan demi memahami dampak kesehatan jangka panjang dari paparan berbagai zat tersebut.

“Jika kita ingin memahami risikonya, kita perlu mengetahui komposisi partikelnya, bukan cuma jumlahnya,” kata José.

Penelitian juga menemukan bahwa ancaman tidak berhenti setelah api sukses dipadamkan. Abu sisa kebakaran dapat menyimpan logam berat dan bahan kimia beracun yang berpotensi kembali beterbangan ke udara saat proses pembersihan dilakukan.

“Kebakaran ini meninggalkan warisan kimia,” ujarnya.

Karena itu, para peneliti menilai penanganan kebakaran perlu diperluas tidak cuma pada upaya pemadaman, namun juga mencakup pemantauan kualitas udara dan pengelolaan limbah pascakebakaran.

Menurut José, strategi perlindungan masyarakat sekitar wajib mempertimbangkan jenis material yang terbakar, bukan sekadar mengukur tingkat asap di udara.

“Untuk melindungi masyarakat sekitar, kita membutuhkan strategi pemantauan dan pembersihan yang mencerminkan apa yang terbakar, bukan cuma seberapa sejumlah asap yang terukur,” tutupnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *