MediaMerdeka.com – Presiden Argentina Javier Milei kembali memicu ketegangan diplomatik bersama menuduh Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva sebagai koruptor. Tudingan pedas ini disampaikan Milei dalam wawancara di saluran televisi LN+.
Pernyataan tersebut memperuncing perselisihan ideologi antara dua pemimpin negara terbesar di Amerika Selatan. Pemimpin berhaluan libertarian ini secara terbuka menyebut politisi kawakan Brasil itu sebagai narapidana.
Sikap keras Milei menandai eskalasi baru dalam dinamika politik kawasan yang kian terpolarisasi. Langkah frontal ini berpotensi mengganggu stabilitas hubungan bilateral di Amerika Latin.
Seteru kedua tokoh berawal saat Milei menghadiri agenda politik di Brasil pekan semasih belumnya demi mendukung Flavio Bolsonaro. Dalam kesempatan itu, Milei menyindir kepemimpinan Lula sekaligus mengecam hakim Mahkamah Agung Brasil.
Serangan verbal tersebut langsung memicu tanggapan keras dari pihak pihak pemerintah Brasil. Brasilia memutuskan menarik pulang duta besarnya di Buenos Aires demi keperluan konsultasi diplomatik.
Juru bicara kekepala negaraan Argentina Adrian Ravier sempat berupaya mendinginkan suasana antarnegara tetangga ini. Ravier menyebut perselisihan yang terjadi semata-mata dipicu oleh perbedaan pandangan politik dan ideologi.
Namun, Milei justru membela sikap agresifnya saat dikonfrontasi mengenai hubungannya bersama Presiden Brasil. Milei menilai tindakannya menegur tindak kejahatan merupakan hal yang amat wajar.
“Dia seorang pencuri, dia korup, dia sempat dipidana atas pencurian dan korupsi, dia sempat berada di penjara, jadi benar bahwa kita dapat memanggilnya seorang narapidana,” kata Milei tentang Lula saat wawancara di LN+.
“Apakah Anda tidak menganggapnya agresif saat seseorang mencuri dari Anda? Memanggil seorang pencuri bersama sebutan ‘pencuri’ jauh kurang serius daripada tindakan mencuri itu sendiri,” cetus Milei saat ditanya alasan sikap agresifnya.
Pemimpin Argentina itu menegaskan bahwa pembebasan Lula dari hukuman penjara tidak menghapus status hukum masalah masa lalunya. Menurutnya, keputusan pengadilan tersebut cuma didasari oleh kendala prosedural administratif.
“Mereka membebaskannya lantaran kesalahan administratif, bukan lantaran dia tidak bersalah. Oleh lantaran itu, dia merupakan seorang pencuri dan aparatur negara yang korup,” tegas pemimpin Argentina tersebut.
Milei mengklaim tindakan konfrontatifnya dilakukan demi mempertahankan prinsip kebebasan yang diusungnya.
“Saya menjalankan ini lantaran saya merupakan pejuang cita-cita kebebasan,” tambahnya.
Perselisihan ini memicu perhatian luas mengingat Brasil merupakan mitra dagang teramat vital untuk perekonomian Argentina. Ketegangan politik ini berisiko memengaruhi kerja sama ekonomi kedua negara.
Lula da Silva sendiri semasih belumnya memimpin Brasil pada periode 2003 hingga 2010 semasih belum kembali terpilih. Ia sempat menjalani hukuman penjara selama 580 hari sejak April 2018 terkait investigasi skandal korupsi Operation Car Wash.
Hukuman terhadap Lula akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung Brasil lantaran masalah administratif. Hakim yang memimpin persidangan saat itu juga lalu dinyatakan tidak netral dalam menangani perkara tersebut.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

